Malam Pertama Qur’anic Camp Universitas Indonesia 2018

Malam Pertama Qur’anic Camp Universitas Indonesia 2018

Assalamu’alaikum. Kali ini saya akan berbagi sedikit pengalaman saya mengikuti salah satu event atau kajian yang berlangsung pada bulan Ramadhan 1439 H lalu. Seperti apa kisah menariknya? Yuk langsung baca tulisan dibawah ini ya :D.

Jum’at itu (01/06/2018) tidak ada yang berbeda dengan pekan sebelumnya sebelumnya. Hari itu saya tidak memiliki agenda khusus ingin melaksanakan Shalat Jum’at atau Shalat Tarawih di Masjid mana.

Menjelang petang hari atau waktu berbuka puasa saya mulai terpikirkan untuk Tarawih di Masjid yang agak jauh dari tempat saya tinggal untuk mendapatkan pengalaman yang berbeda.  Akhirnya memutuskan untuk Tarawih di Masjid Ukhuwah Islamiyah di Kampus UI, Depok.

Selain ingin mencari pengalaman yang berbeda, pun juga saya sebetulnya ingin mencari Masjid yang ada ceramahnya disaat Tarawih.

Alhamdulillah, Qadarallah, Allah gerakah hati saya untuk melangkahkan kaki menuju Masjid UI walaupun dalam kondisi yang dadakan begini seperti tahu buat #eh.

Kalau dipikir-pikir ya jarak Masjid UI dari tempat tinggal saya yang hampir mendekati wilayah Cibinong, Kabupaten Bogor terbilang lumayan cukup jauh. Tetapi karena Ghiroh dan Iman yang sudah sangat menggebu-gebu, selepas Shalat Maghrib perjalanan menuju rumah Allah dimulai.

Berangkat menuju kampus UI dari lokasi saya berada dengan waktu yang dadakan sebetulnya bikin jantung sangat berdebar dan deg-degan karena khawatir telat Shalat Isya dan Tarawih. Alhamdulillah, Qadarallah saya  bisa sampai tepat waktu, ketika Adzan Isya berkumandang sudah sampai di wilayah Pondok Cina, Depok.

Perjalanan yang menegangkan akibat berangkat dengan jangka waktu yang relatif mendadak ini akhirnya saya lalui dengan Shalat Isya dan Tarawih berjama’ah berserta ceramah sebelum Tarawih dimulai.

Lalu yang tidak kalah penting dan menariknya adalah acara yang dimulai ba’da Tarawih yaitu Qur’anic Camp UI 2018. Jum’at malam itu menjadi penanda dimulainya acara Qur’anic Camp yang kalau tidak salah berlangsung selama empat hari.

Saya sendiri tidak begitu paham tetang agenda acaranya apa saja. Yang saya tahu hanya malam itu ada sesi talkshow tentang Al-Qur’an. Ternyata selama tiga hari berturut-turut acara ini terus berlangsung, peserta mendaftar terlebih dahulu di Jum’at sorenya, lalu akan menginap dan berlanjut kepada sesi kajian berikutnya pada keesokan paginya.

Akibat ketidaktahuan saya tadi, akhirnya sesi talkshow di malam pertama ini saja yang saya ikuti karena saya tidak mendaftar sebagai peserta.

Kita sambut, inilah dia talkshow Qur’anic Camp; “Live a Noble Life with Qur’an” dengan pembicara Ust. Ulil Abshar, Al-Hafidz dan Muhammad Ismail, Al-Hafidz.

 

A post shared by Masjid UI Depok (@masjidui.id) on

Poster Qur’anic Camp UI 2018.

Siapakah kedua pembicara itu? Ust. Ulil Abshar, Al-Hafidz merupakan pemegang Sanad Qiroah Sab’ah, sedangkan Muhammad Ismail, Al-Hafidz adalah Mahasiswa FEB UI dan Ketua LDKN Salam UI 21. Beliau berdua telah menjadi Hafidz Qur’an semenjak usia dini lho kawan.

Banyak ilmu bermanfaat yang bisa diambil dan diserap sepanjang talkshow berlangsung tentang perihal menghafal Qur’an berbekal dari pengalaman kedua pemateri dalam perjalanannya menjadi seorang Hafidz Qur’an.

Pemateri pertama diisi oleh Ust. Ulil. Beliau memaparkan bahwa saat ini adalah masa keemasan Al-Qur’an menurut lembaga Tahfidz Internasional dan Indonesia adalah salah satu negara yang menjadi barometer Al-Qur’an.

Dilanjutkan dengan pemaparan materi dari Ismail, pembicara kedua. Menurutnya, keluarga Allah SWT adalah penghafal Qur’an dan bisa mengamalkannya hingga akhir hayat.

Lalu bagaimana tanggapan, tips, saran dan motivasi dari kedua pembicara tentang seorang yang ingin menjadi penghafal Qur’an?

Menurut Ust. Ulil, penghafal Qur’an tidak boleh pelit dengan senyuman, penghafal Qur’an harus selalu berkhusnudzon kepada Allah saat sedang menghafal Qur’an bahwasanya kita akan dapat mengingat ayat Allah.

Hampir senada dengan apa yang dibagikan oleh Ust. Ulil, Ismail menambahkan bahwa bekal yang baik adalah niat yang baik, kita harus ikhlas dan tulus, juga mesti kita niatkan karena Allah dalam menghafal Qur’an.

Rasa penasaran yang besar akan meghafal Qur’an ini membuat saya yang masih awam kemudian melontarkan pertanyaan dalam sesi tanya jawab. Saya bertanya diantaranya apakah kita membutuhkan guru dalam menghafal Qur’an dan apakah kita mesti bergabung ke lembaga Tahfidz Qur’an dalam menghafal Qur’an ini?

Pertanyaan saya dijawab oleh Ust Ulil. Menurutnya ada baiknya kita menghafal Qur’an sambil dimentori oleh guru yang tentunya sudah memiliki ilmu yang lebih dalam menghafal diantaranya adalah mengenai kefasihan dalam membaca Al-Qur’an (memahami ilmu Tajwid yang benar) dan juga memiliki hafalan Qur’an yang lebih.

Lalu kalau kita cukup kesulitan dalam mencari guru, alangkah baiknya kita bergabung dalam lembaga Tahfidz Qur’an agar mendapatkan bimbingan yang baik dan benar dalam menghafal Qur’an. Jika bergabung ke dalam sebuah lembaga tentu juga akan memacu semangat kita dalam menghafal ketimbang bila kita hanya menghafal sendiri dengan ilmu yang masih dangkal.

Masya Allah, malam itu saya mendapatkan ilmu baru tentang menghafal Qur’an yang menjadi motivasi saya untuk semangat dalam memulai menghafal Qur’an di tengah-tengah godaan Syetan yang terkadang membuat malas dalam membaca Qur’an, Naudzubillahimindzalik 🙁

Alhamdulillah pertanyaan saya mengenai menghafal Qur’an terjawabkan dalam talkshow Qur’anic Camp di Sabtu malam itu, sebab cita-cita besar saya adalah ingin menjadi seorang penghafal Qur’an walaupun entah diusia berapa nanti.

Godaan Syetan dan duniawi begitu besarnya sehingga sampai detik ini saya belum memutuskan untuk mencari guru atau lembaga Tahfidz untuk bisa memulai menghafal Qur’an. Semoga Allah berikan jalan bagi saya untuk bisa menghafal Qur’an dan dipertemukan dengan lingkaran para penghafal Qur’an sehingga bisa membimbing saya untuk menjadi penghafal Qur’an dengan bacaan yang fasih dan tartil alias tidak asal-asalan, Insha Allah, Amin.

Masya Allah, panjang lebar saya menuliskan salah satu pengalaman Ramadhan saya. Semoga ada hikmah, manfaat, ilmu dan motivasi yang bisa diambil dari pengalaman pribadi ini. Namun jika ada yang kurang baik dari apa yang saya tuliskan ini, kiranya jangan diambil dan jangan sungkan untuk mengingatkan serta meluruskan.

Terimakasih sudah mampir membaca dan berkunjung ke blog shambustory.com kawan. Sampai jumpa di tulisan saya berikutnya.

Jazakallah khoirokatsiron 🙂

Wassalamu’alaikum.

Rizqi shambu

Muhammad Rizqi also know as "shambu." Graphic designer, photographer, video editor, creativepreneur & blogger / writer since 2011, based in Depok, West Java, Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published.