Sukabumi & Palabuhan Ratu

Lomba Menulis National Geographic

Bismillah.

Assalamu’alaikum.

Tulisan ini telah dipublikasikan di laman web National  Geographic Indonesia sebagai kompetisi cerita “Travel Mate” yang diadakan oleh NatGeo Indonesia, selamat membaca.


Jawa Barat merupakan salah satu provinsi yang memiliki tingkat kepadatan penduduk yang tinggi di pulau Jawa. Maka tak heran bila Jawa Barat banyak memiliki daerah-daerah atau obyek yang kerap dijadikan sebagai destinasi wisata oleh para wisatawan atau traveler.

Mulai dari wisata sejarah, wisata rohani, wisata alam, wisata budaya dan jenis atau genre wisata lainnya semua ada di Jawa Barat.

Salah satu kota yang namanya sudah tidak asing di telinga kita adalah kota Sukabumi yang letaknya berada di Jawa Barat bagian selatan dan berbatasan langsung dengan kota Bogor. Berjarak sekitar 110 km dari Jakarta dengan estimasi waktu tempuh 2 hingga 3 jam perjalanan dalam keadaan lancar atau tidak macet, tak jarang kota Sukabumi ini juga kerap disambangi warga Ibu Kota untuk sekedar melepas penatnya kehidupan Ibu Kota sembari menikmati obyek-obyek wisata yang disuguhkan oleh kota yang memiliki semboyan Reugreug Pageuh Repeh Rapih ini.

Tak perlu khawatir jika kita ingin berwisata ke sana, selain jaraknya yang masih terjangkau dari Ibu Kota (Jakarta & sekitarnya) yang kebetulan saya berdomisili di kota penyangga Jakarta, akses menuju kota Sukabumi pun sangat mudah dijangkau. Jika tidak memiliki kendaraan pribadi, banyak transportasi massal atau kendaraan umum disediakan untuk menunjang kegiatan wisata atau traveling kita.

Mengapa harus Sukabumi, tidak kota lain sebagai kota destinasi wisata bagi para traveler? Selain jaraknya yang tidak begitu jauh dari ibu kota sehingga para traveler ibu kota tidak perlu khawatir soal jarak tempuh, kota Sukabumi ini juga tidak kalah menarik dengan kota lain yang ada di Indonesia khususnya yang ada di Jawa Barat.

Sukabumi memiliki beragam obyek atau destinasi wisata yang cukup menarik hati dan hasrat para traveler. Bagi yang suka wisata alam, di Sukabumi terdapat gunung yang kerap didaki diantaranya adalah gunung Salak dan gunung Gede Pangrango, ada juga sungai yang kerap dijadikan sebagai wahana arung jeram seperti sungai Citarik.

Yang tak kalah dari obyek wisata gunung dan wisata rafting yang saya jelaskan di atas yang terdapat pada kota ini adalah wisata pantainya. Sukabumi juga sangat dikenal dengan jajaran obyek wisata pantainya yang membentang luas di pantai selatan Sukabumi.

Oleh karenanya jika berkunjung ke Sukabumi, tidak afdol rasanya jika kita tidak berkunjung ke pantainya. Salah satu pantai yang paling di kenal dan terkenal seantero kota Sukabumi adalah pantai Palabuhan Ratu.

Pantai Palabuhan Ratu ini begitu terkenal sebab pantai ini begitu kental sekali dengan mitos-mitos, cerita maupun legenda tentang Ratu Pantai Selatan yang dimana kisah-kisah yang berkaitan tentang hal ini pun kerap di umbar atau diberitakan di media mainstream sehingga cukup menambah popularitas dari pantai ini.

Untuk dapat menuju pantai Palabuhan Ratu ini dibutuhkan waktu tempuh sekitar 2 sampai dengan 3 jam perjalanan dari kota Sukabumi. Jika dari arah Jakarta atau Bogor, akses menuju Palabuhan Ratu dapat dilalui dengan dua pilihan akses jalan yang berbeda. Yang pertama kita dapat melewati jalur tengah kota Sukabumi yang terkadang kerap terjadi kemacetan panjang jika hari libur dan yang kedua adalah kita dapat melalui jalur alternatif via Cikidang jika ingin menghindari macet di Sukabumi kota.

Lalu sebaiknya pilih jalur mana untuk menuju Palabuhan Ratu? Jika waktu masih pagi atau siang dan ingin menghindari macet di Sukabumi kota, kita bisa melewati jalur Cikidang, namun jikalau hari sudah malam saya tidak merekomendasikan untuk melewati jalur Cikidang sebab jalan sangat sepi dan jauh kehidupan warga. Maka jika hari sudah malam baiknya melalui jalur kota saja.

Selama dalam perjalanan menuju pantai Palabuhan Ratu baik melalui jalur kota maupun jalur Cikidang mata kita disuguhi dan dimanjakan oleh hamparan pemandangan alam yang membentang luas sepanjang jalan seperti pegungungan, perbukitan dan perkebunan. Jika kita melewati Cikidang, seluas mata memandang kita akan disuguhkan dengan hamparan perkebunan kelapa sawit dan pegunungan.

Indahnya ciptaan Yang Maha Kuasa di tanah Sukabumi membuat perjalanan kita yang cukup jauh secara jarak dan waktu menjadi tidak terasa dan begitu berarti. Betapa indahnya bentang alam di Sukabumi yang patut kita syukuri dan patut kita jaga kelestariannya sehingga kebahagaiaan tidak berhenti hanya pada diri kita saja.

Landscape yang begitu mempesona selama dalam perjalanan akhirnya menyampaikan dan mempertemukan kita pada tujuan kita yaitu pantai Palabuhan Ratu.

Jejeran pantai yang begitu indah nan ekstotis menyambut kita dengan deburan ombak yang datang silih berganti dan juga semilir angin yang berhembus. Sampai di sana tak serta merta kita akan langsung turun ke pantai, karena di sana ada banyak pantai, biasanya kita melakukan survey terlebih dahulu terhadap pantai yang akan kita kunjungi.

Sebab masih banyak pantai di Palabuhan Ratu yang kurang terjaga kondisi kerapihan, ketertiban dan kebersihannya, sehingga survey lokasi yang kadang cukup memakan waktu ini cukup ideal untuk kita lakukan sebelum kita benar-benar akan menginjakan kaki di pantai tersebut.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dan penuh dengan lika-liku akhirnya jiwa dan raga kita pun dapat menyatu dengan pantai. Iya, inilah dia Palabuhan Ratu, pantai di selatan pulau Jawa.

Kita yang sama sekali belum pernah menginjakan kaki ke sini pasti akan berandai-andai dan berekspektasi besar atau tinggi terhadap pantai ini, mungkin pantai disini sama seperti di pulau Dewata sana, banyak bule sedang berjemur dan hal-hal menarik atau unik lainnya. Namun mirisnya di pantai yang memiliki bentang alam yang cukup eksotis dan menarik ini, kondisinya berbanding terbalik daripada pantai di pulau Dewata sana. Pantai disini kurang begitu ramai dipadati oleh wisatawan baik wisatawan domestik maupun mancanegara.

Dari kacamata saya, saya kurang begitu melihat antusiasme para traveler untuk mengunjungi pantai ini. Apakah faktor mitos tentang Ratu Pantai Selatan dan juga masalah kebersihan yang sebetulnya hanyalah masalah klasik yang belum kunjung menemui akhirnya ini menjadi beberapa faktor penyebab para traveler enggan untuk berkunjung ke pantai ini?

Padahal jika ditelaah kembali, pantai di pulau Bali pun tak lepas dari jeratan masalah sampah, namun entah kenapa pantai disana masih tetap ramai dipadati wisatawan.

Siapa yang mestinya bertanggung jawab akan masalah ramai dan tidak ramainya pengunjung di pantai selatan pulau Jawa ini (Palabuhan Ratu)?

Saya sebagai seorang traveler yang sempat berkunjung ke sana akhir tahun 2015 lalu mencoba menganalisa dan memberikan sedikit hipotesa terhadap masalah ini.

Sepengetahuan saya kalau di Bali sana banyak sekali dilaksanakannya event yang berkaitan dnegan kebudayaan yang tentunya mengangkat kebudayaan dan kearifan lokal Bali yang cukup memberikan dan membawa dampak baik bagi peningkatan traffic kunjungan wisatawan di pantai di Bali.

Sejatinya pantai Palabuhan Ratu harus mulai berbenah diri yang tentunya mesti mendapat dukungan dan dorongan yang kuat dari seluruh elemen masyarakat untuk dapat menjadikan pantai Palabuhan Ratu sebagai list destinasi wisata yang wajib dikunjungi bagi para traveler yaitu dengan mengangkat unsur kebudayaan dan kearifan lokal pesisir pantai di selatan kota Sukabumi dalam kegiatan promosi dan kampanye obyek wisata pantainya.

Seperti dengan mengangkat unsur kebudayaan yang hanya terdapat pada daerah pesisir saja yang tentunya yang memiliki nilai positif sehingga suatu saat nanti masyarakat akan mudah mengenali dan mengetahui tentang unsur kearifan lokal yang terdapat di Palabuhan Ratu terlebih setiap daerah memang memiliki budaya dan tradisi yang berbeda-beda.

Oleh karenanya diperlukan ketegasan dan keseriusan dari pihak yang terkait agar publik dapat lebih tahu dan lebih mengenal budaya dan kearifan lokal yang ada di Palabuhan Ratu dan sekitarnya sehingga kiranya dengan sendirinya traffic wisatawan yang berkunjung akan mengalami peningkatan.

Terimakasih sudah berkunjung membaca 🙂

Rizqi shambu

Muhammad Rizqi also know as "shambu." Graphic designer, photographer, video editor, creativepreneur & blogger / writer since 2011, based in Depok, West Java, Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published.