Prolog: “RAMA”

Ditulis pada Rabu, 19 Agustus 2015

Di tengah malam yang sunyi aku terbangun dari tidur lelapku. Entah apa yang membuatku tetiba menjadi terbangun, antara lupa-lupa ingat aku ini barusan mimpi indah atau mimpi buruk sehingga sejenak bola mataku berhenti terpejam. Kulihat jam dinding kamarku di malam itu menunjukan pukul setengah tiga pagi, hmm berarti ini sudah bukan malam lagi namun hari sudah menjelang pagi.

Malam menjelang pagi ini entah mengapa disuguhi oleh cuaca yang agak dingin, mungkin karena efek hujan yang turun waktu jam sembilan malam tadi yang lumayan deras sehingga membuatku memilih tidur lebih awal demi  merasakan kehangatan dari suasana kamar tidurku yang sengaja kubuat temaram ini. Hari Selasa pun telah berganti menjadi Rabu.

Oh ya, aku lupa untuk memperkenalkan diri. Rama. Rama adalah namaku, panjangnya adalah Rama Nusantara Putra. Kata ayahku yang merupakan seorang guru Bahasa Indonesia, nama Nusantara disematkan atau diberikan sebagai nama belakangku adalah agar aku tetap ingat dan tidak lupa akan tanah kelahiranku tempat dimana aku menginjakan bumi pertama kali yaitu Nusantara. Nama yang baik atau bagus yang diberikan oleh orang tuaku.

Sesaat setelah aku terbangun tadi aku melihat ke luar jendela kamarku yang berada di lantai atas rumahku, ternyata hujannya sudah reda dan yang tersisa hanyalah angin malam yang berhembus dengan kencangnya.

Lalu akupun terduduk di atas kasur sembari aku berpikir sejenak, barusan aku mimpi apa ya? Apa tadi aku mimpiin  Indah ya, eenggg.. tau ah gelap. Indah adalah teman SD ku dulu yang sekarang jadi teman kuliahku sejurusan di jurusan Ilmu Komunikasi.

Indah Dwi Utari lengkapnya, dia adalah teman SD ku selama dua tahun, dia mulai masuk sekolahku waktu kelas 4 SD. Dia adalah murid pindahan dari daerah Jawa Tengah karena pekerjaan ayahnya yang dipindah tugaskan ke kota, maka Indah pun juga ikut sang ayah. Jadilah kita menikmati masa sekolah dasar bersama selama dua tahun dari kelas 4 sampai kelas 6 SD.

Waktu pertama Indah pindah ke sekolahku aku duduk di bangku depannya Indah sampai seterusnya aku juga pernah duduk sebangku  dengan Indah. Dari situlah kita mulai akrab sebagai teman sebaya, teman kecil dan teman sepermainan. Indah juga banyak bertanya denganku waktu baru pertama kali masuk sekolahku tentang sekolah dan lain hal.

Maklum lah orang daerah yang baru pertama kali pindah ke kota, walaupun waktu awal masuk aku tidak duduk sebangku dengannya tapi dia lebih memilih untuk bertanya atau ngobrol dengan teman-teman lain termasuk aku karena teman sebangkunya waktu itu si Ayu, orangnya agak pendiam jadi kurang enak diajak ngobrol.

Diam-diam begitu ternyata si Ayu sudah menikah, sayangnya undangannya tak sampai di kotak pos rumah, yang ada aku cuma tahu dan dengar kabar dari kawan-kawan alumni SD ku.

Pernah menjadi teman SD ku dan ku anggap sekarang ini dia (Indah) telah menjadi bagian dari perjalanan hidupku walaupun waktu SMP & SMA kita enggak satu sekolah. Ayahnya indah kembali dipindahtugaskan lagi ke daerah sehingga Indah pun ikut pindah juga. Dan Alhamdulillah kita ketemu lagi tanpa disengaja di bangku kuliah, di kampus dan di jurusan yang sama.

Lama tidak bertemu dengan Indah, wajah Indah kian rupawan, menawan dan indah seperti namanya. Pertama kali ku berjumpa dengannya adalah ketika sedang melakukan briefing tentang orientasi mahasiswa atau OSPEK. Ketika itu aku sama sekali tidak begitu ngeh kalau perempuan berhijab yang duduk di depanku itu adalah Indah. Setelah beratapan dan berkenalan, ternyata itu teman SD ku dulu.

Mulai disitu aku mulai menyimpan rasa dengan teman SD ku yang dulu waktu SD belum berhijab dan sekarang sudah berhijab.

Waktu sudah menunjukan hampir jam tiga pagi, namun aku masih duduk terdiam di atas kasur ditemani dinginnya pagi atau dini hari hanya berkhayal, melamun dan memikirkan wanita berhijab itu. Sudah dari semseter awal aku mendabanya, tapi di waktu yang hampir memasuki semester tujuh ini, bibirku masih terdiam membisu dan masih belum berani melontarkan kata-kata untuk mengungkapkan perasaan ku padanya.

Lagi-lagi di hampir menginjak semseter tua di perkuliahan aku masih saja malu-malu dan rasasanya perasaan hati ini masih nikmat untuk dipendam. Ya kali ini aku cukuplah pantas disebut atau menyandang predikat sebagai manusia si pemuja rahasia.

BERSAMBUNG…

 

Rizqi shambu

Muhammad Rizqi also know as "shambu." Graphic designer, photographer, video editor, creativepreneur & blogger / writer since 2011, based in Depok, West Java, Indonesia.

Has one comment to “Prolog: “RAMA””

You can leave a reply or Trackback this post.

Leave a Reply

Your email address will not be published.