Oh Toko Buku

Gara-gara baca buku kumpulan puisi “Oleh-oleh Khas Jalan Sunyi” karya teman saya Mas Jazuli Imam yang juga pendiri kedai kopi Djeladjah di Yogyakarta, akhirnya saya jadi tertarik ingin juga membuat atau menulis karya puisi seperti apa yang teman saya buat.

Namun apa daya, seumur-umur saya belum pernah sama sekali mempelajari lebih dalam tentang kepenulisan syair atau puisi baik secara teori maupun praktek. Walhasil karena hasrat saya ingin belajar menulis puisi tinggi sekali, akhirnya tadi sore saya mampir ke salah satu toko buku ternama dan terbesar di kota Depok untuk mencari buku tentang materi kepenulisan puisi.

Ya! Niat saya pergi ke toko buku yang tidak hanya tersohor dan ternama di kota Depok tetapi juga di Indonesia ini adalah untuk membeli buku, bukan untuk membeli barang lainnya. Selain mencari buku puisi yang menurut saya tidak akan saya dapatkan atau temui di deretan buku-buku murah, pun saya juga biasanya sekalian hunting buku-buku murah, bila ada yang menarik dan sesuai dengan budget akan saya beli.

Biasanya deretan lapak buku murah di toko buku di bilangan Margonda, Depok ini ada di lantai basement atau di area parkir.

Sesampainya disana ternyata tata letak ruang dari toko buku ini sudah berubah. Parkiran yang biasanya dijadikan tempat meng-obral buku-buku murah, kini sudah disekat menggunakan kaca dengan ruangan ber-AC. Senang rasanya melihat perubahan ini dari kejauhan ketika hendak parkir motor, karena sebelumnya tempat ini sama sekali tidak ber-AC dan dibiarkan terbuka, antara parkiran dan toko buku hanya dibatasi rak buku saja.

Wah asyiknya ya bisa melihat buku-buku yang diobral murah di dalam ruangan ber-AC, ucap saya dalam hati ketika tengah berjalan dari parkiran menuju toko buku-nya. Dan setelah saya memasuki ruangan yang sudah berevolusi menjadi tertutup itu ternyata hasilnya tidak sesuai dengan apa yang saya harapkan.

Saya yang benar-benar berniat datang ke toko buku ini untuk membeli buku dikejutkan dengan penampakan barang dagangan yang dipamerkan atau diperjual-belikan sama sekali tidak ada atau jauh sekali relevansi atau keberkaitannya dengan buku.

Pupus sudah harapan saya dan mesti pula menelan ludah ketika ingin dapat mencari buku murah dengan nyaman mesti dipatahkan dengan kenyataan. Ada apa gerangan? Lihat di depan sana, toko buku sudah berubah haluan menjadi toko yang menjual barang kebutuhan rumah tangga, Ck, sembari kesal di dalam hati.

shambu journey www.shambustory.com
Lihat, apa yang dilakukan toko buku besar kepada pecinta buku.

Pada akhirnya arena buku-buku murah pun mesti tersingkirkan dan hanya diberi ruang yang sedikit daripada yang sebelumnya. Hmm, ternyata tak selamanya kenyamanan itu membawa manfaat ya sob, hehe.

Kan toko buku ya, lho kok yang dijual di muka malah barang-barang seperti ini ya? Saya ini kan niatnya ingin mencari / membeli buku, bukan ingin membeli gelas, piring, sendok, garpu ataupun jilbab, huh!, sontak langsung mengelus dada tetangga sebelah, eh, haha 😛

Semangat yang menggebu-gebu untuk hunting dan membeli buku pun turun drastis karena biasanya cukup senang bila datang ke toko buku ini walau hanya berkeliling dan melihat-lihat koleksi buku yang dijajakan yang diobral murah di lantai basement sebelum ke lantai atas. Sebab terkadang motivasi saya untuk berkarya itu muncul ketika sedang berkeliling melihat buku. Tapi adalah daya, buku kini mulai tergantikan dengan kebutuhan rumah tangga di toko buku ini, hmm.

Lalu, apa intisari dari tulisan pengalaman saya mengunjungi toko buku yang paling tersohor ini?

Adalah dimana toko buku yang hampir di setiap kota di Indonesia ini ada, telah mengalami disorientasi atau pergeseran tujuan. Entahlah apa maksud dan tujuan sebenarnya toko buku ini menjual produk yang jauh sekali relevansinya dengan dunia kepustakaan, mungkin saja hanya untuk dianggap eksis dan biar tidak kalah dengan toko sejenis lainnya. Namun pendapat pribadi saya sebagai pecinta dan penikmat buku, itu adalah cara eksis yang salah.

Saya yang sedari zaman masih kuliah gemar mampir ke toko buku ini karena bukunya jadi agak sungkan dan malas datang ke sini bilamana hal-hal atau tetek-bengek yang tidak seharusnya atau tidak biasanya diperjual belikan di toko buku tetap dijual kepada pengunjung atau konsumen.

Menariknya pengalaman saya kali ini mesti berhenti sampai disini. Nah, pendapat kalian tentang keresahan yang saya alami ini apa ya? Share di kolom komentar ya 🙂

Oh Toko Buku… Malang nian nasibmu kini… Tergerus oleh perkembangan zaman…

Terimakasih sudah mampir membaca, salam 😀

Rizqi shambu

Muhammad Rizqi also know as "shambu." Graphic designer, photographer, video editor, creativepreneur & blogger / writer since 2011, based in Depok, West Java, Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published.