Gerhana Matahari Total di Bulan Maret

Baru saja kemarin kita menyaksikan dan melewati fenomena alam yang langka yaitu Gerhana Matahari Total yang terjadi pada 9 Maret lalu yang bertepatan dengan tanggal merah.

Alhamdulillah fenomena alam yang memang jarang sekali terjadi ini berlangsung di waktu hari libur di Indonesia sehingga jutaan pasang mata dapat berbondong-bondong dengan bebas dan seksama menyaksikan fenomena yang merupakan kebesaran Allah SWT tersebut.

Ya! Saya pertegas sekali lagi bahwa fenomena gerhana matahari total merupakan salah satu wujud dan bentuk dari kebesaran dan keagungan dari Allah SWT.

Dari hanya mengetahui, kemudian kita nikmati lalu timbul atau muncul rasa bahagia dalam diri kita sesaat setelah kita mengalami, merasakan dan menikmati gerhana matahari tersebut, tanpa kuasanya kita manusia yang bukan apa-apa dan siapa-siapa di mata-Nya ini tidak akan bisa menikmati fenomena yang terfenomenal di bumi ini.

Apalah daya, kita manusia hanya bisa merasa ketika fenomena ini terjadi, tidaklah kita manusia bisa menciptakan fenomena alam yang dahsyat seperti ini terkecuali suasana, mungkin kita masih bisa menciptakannya, suasan cair yang saling membaur antar sesama ketika kita menyaksikan peristiwa ini sebab hanya Allah SWT lah yang berdaya untuk menciptakan segala sesuatu yang diluar kemampuan manusia.

Ketika kita tiada daya untuk dapat menciptkan suatu hal yang diluar kemampuan kita seperti ini, apakah pantas kita melewati peristiwa langka ini dengan perayaan atau seremonial duniawi yang sarat akan sesuatu yang ujung-ujungnya mengarah pada euforia yang terlalu berlebihan, bermegah-megahan, pemboorosan uang negara terlepas dari alih-alih promosi pariwisata daerah dan hal-hal yang terkesan penting dan berujung pada ketidakbermanfaatan.

Sudah sepatutnya kita menyikapi segala bentuk kenikmatan dan karunia yang diberikan oleh Allah SWT yang menjelma melalui fenomena gerhana matahari total ini dengan bersyukur atau penuh rasa syukur terlepas dari fenomena alam ini sudah berlalu ketimbang kita terlalu berlebihan dalam merayakan fenomena alam seperti ini.

Sebagaimana kita ketahui Allah SWT lah yang maha berkehndak akan segala sesuatu, gerhana matahari ini pun terjadi atas kehendak Allah SWT semata. Manusia mungkin dengan segala ilmu yang dimilikinya mungkin bisa mengetahui atau menentukan kapan datangnya fenomena seperti ini, tetapi ketika Allah SWT tidak berkehendak maka tidaklah akan terjadi fenomena ini.

Lantas dengan cara apa kita mesti bersukur atau menysukuri segala kenikmatan sesaat melalui gerhana matahari ini?

Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk menunjukkan raya syukur kita terhadap karunia dan nikmat Allah yang satu ini yang tentunya sesuai dengan ajaran agama Islam yaitu dengan melaksanakan Shalat Sunnah Gerhana, perbanyak berTakbir dan Dzikir serta memperbanyak sedekah pada hari gerhana matahari tersebut terjadi.

Seperti dikutip dari akun Instagram Tadabbur Daily tentang gerhana matahari berikut ini:

Alhamdulillah, 9 Maret lalu untuk kali pertamanya saya melaksanakan Shalat Sunnah gerhana. Pengalaman pertama ini tentunya merupakan pengalaman dan momen yang paling berharga dalam hidup saya.

Awalnya saya bimbang antara ingin ikut Shalat berjama’ah di Masjid atau tidak ikut Shalat sama sekali yang kemudian tadinya saya malah akan merencakan memilih lari pagi di hari libur tersebut. Namun dengan berbagai pertimbangan yang matang, akhirnya saya memutuskan untuk ikut Shalat gerhana berjama’ah di Masjid Al-Falah di komplek dekat rumah.

Tadinya juga saya malah mau Shalat sendiri di rumah karena saya berpikir ini adalah Shalat Sunnah. Tetapi karena saya kurang begitu memahami dan mengetahui tata cara Shalat Gerhana yang baik dan benar walaupun saya sempat cari tata cara Shalatnya di Google tapi saya tetap saja belum mudeng dan justru malah makin ragu kalau Shalat sendiri tanpa dibimbing oleh ahlinya, pilihan terbaik adalah dengan mendatangi Masjid.

Satu hal yang tak terduga dan tak disangka adalah Masjid begitu ramainya dipadati oleh para jama’ah. Yaa kurang lebih bisa dibilang hampir mirip-mirip lah dengan ketika Shalat Ied, Subhanallah. Seketika itu kalimat puji-pujian terucap dari seluruh jama’ah yang tentunya amat menanti fenomena gerhana ini.

Tak ingin ketinggalan, walaupun tidak ada niatan khusus untuk memotret atau mengabadikan momen gerhana matahari, tetapi hati dan jiwa saya rasanya terasa gatal ingin ambil bagian dalam mengabadikan momen langka ini.

Walaupun saat itu saya sedang tidak membawa kamera DSLR karena memang tidak ada persiapan yang matang akan hal ini,  dan juga terlebih saya sama sekali tidak menggunakan atribut seperti kacamata yang bisa menjadi alat untuk melihat gerhana matahari secara jelas sehingga saya hanya mengandalkan mata telanjang dalam melihat gerhana ini yang walhasil saya tidak melihat gerhana matahari terjadi secara sempurna.

Lalu dengan berbekal kamera ponsel saya berusaha untuk mengabadikan gambar di waktu gerhana matahari total itu terjadi atau berlangsung. Begitu semesta mendukung jari jemari saya untuk menekan tombol shutter yang terdapat pada smartphone saya sehingga menghasilkan karya foto yang cukup memiliki makna yang mendalam bagi setiap insan sebagai berikut:

Jpeg
Mentari pagi di kala itu

Jpeg

Foto oleh shambuimaji www.shambuimaji.com.

Dibalik segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan ini khusunya pada momen atau fenomena gerhana matahari total ini semoga dapat membawa manfaat, hikmah dan kebaikan bagi kehidupan kita saat ini maupun masa mendatang.

Semoga fenomena alam ini dapat menjadi ruang instrospeksi atau ruang perenungan bagi diri kita agar kita tidak melupakan atau lebih mengingatkan kita lagi terhadap Sang Pencipta, Allah SWT dengan segala keesaan, kebesaran dan kuasa-Nya.

Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca tulisan ini. Jika ada yang kurang berkenan dengan tulisan ini mohon dimaafkan sebab saya hanya berusaha untuk menuangkan pemikiran yang saya miliki mengenai fenomena yang baru saja terjadi ke dalam sebuah tulisan. Dan semoga tulisan ini bermanfaat ya sobat.

Wassalamua’laikum.

Rizqi shambu

Muhammad Rizqi also know as "shambu." Graphic designer, photographer, video editor, creativepreneur & blogger / writer since 2011, based in Depok, West Java, Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published.