Belajar Menjadi Konsumen Yang Baik

Tulisan ini diperuntukkan untuk lomba menulis #BeliYangBaik.

Oleh: Muhammad Rizqi Hidayatullah


Beberapa waktu belakangan ini tanah air kita sedang dilanda bencana yang tergolong sebagai bencana besar. Ialah bencana kabut asap dan kebakaran hutan atau lahan yang terjadi di bumi Nusantara. Penulis sebut ini sebagai bencana besar karena bencana kabut asap dan kebakaran hutan yang terbesar atau mungkin terparah sepanjang sejarah karena bencana ini melanda hampir sebagian besar wilayah Indonesia.

Terlebih bencana kebakaran yang terbesar terjadi di wilayah hutan di pulau Sumatera, Kalimantan hingga Papua. Namun terlepas dari besar atau kecilnya dampak yang ditimbulkan oleh bencana kebakaran hutan ini maupun dari tingkat frekuensi terjadinya bencana ini, Pemerintah Indonesia belum juga menetapkan bencana asap dan kebakaran lahan di tahun 2015 ini sebagai bencana Nasional. Berbeda dengan Pemerintah yang belum memberikan predikat bencana ini sebagai bencana Nasional, Kompas TV dalam program beritanya memberikan label sebagai bencana asap sebagai bencana kemanusiaan.

Di beberapa wilayah di Indonesia, bencana seperti ini mungkin sudah menjadi santapan sehari-hari mereka karena hampir di kurun waktu dalam beberapa tahun belakangan ini masyarakat telah menjadi korban bahkan turut menjadi tumbal akibat dari keganasan si jago merah yang melahap habis area yang terdampak.

Keganasan yang diperlihatkan si jago merah terhadap hutan ini bukan terjadi tanpa sebab dan buka pula terjadi semata karena kehendak Tuhan YME. Tetapi dari apa yang penulis amati melalui media televisi dan media internet, tak lain adalah faktor manusia yang menjadi penyebab utama dalam bencana kebakaran hutan yang memang sengaja dibakar.

Mengapa hutan Indonesia yang merupakan paru-paru dunia dan merupakan habitat bagi flora dan fauna sengaja dibakar oleh manusia itu sendiri? Tak lain adalah bertujuan untuk membuka lahan perkebunan yang salah satunya adalah lahan untuk perkebunan kelapa sawit. Membakar hutan adalah cara yang paling murah dalam mengubah hutan menjadi lahan kelapa sawit.

Oleh karena itu tak heran jika kebakaran hutan kerap terjadi sepanjang tahun di negara yang menurut WWF Indonesia memiliki hutan dengan luas sejumlah 99,6 juta hektar ini. Begitulah yang terjadi di bumi pertiwi ini, pil pahit yang mesti kita telan sebagai warga yang hidup di negara tropis ini adalah harus merelakan kehilangan salah satu sumber kehidupan manusia yang bersumber dari hutan.

Ironisnya lagi meski bencana kebakaran ini kerap terjadi hampir setiap tahun di beberapa wilayah di Indoensia, namun belum terlihatnya langkah pencegahan yang serius dari Pemerintah sehingga ketika bencana yang sengaja dibuat oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab ini Pemerintah kita sibuk mencari cara bagaimana agar masalah ini dapat terobati. Ya, itulah pemerintah kita sibuk mengobati, bukan sibuk mencegah. Dengan segala macam bentuk regulasi maupun peraturan yang ada, para oknum dari perusahaan dapat dengan mudah membumihanguskan hutan dari peradaban dan sejarah kehidupan manusia di Indonesia ini.

Inti dari kebakaran hutan yang terjadi belakangan ini adalah faktor pengalihfungsian lahan menjadi lahan kelapa sawit yang diperuntukan untuk kebutuhan industri dan juga pemenuhan kebutuhan manusia sehari-hari. Memang baik dan positif bila perusahaan berusaha membantu memenuhi kebutuhan hidup manusia melalui produk-produk yang diproduksi dan ditawarkannya. Namun menjadi negatif apabila dalam proses pemenuhan kebutuhan manusia ini perusahaan mesti mengabaikan pelestarian lingkungan.

Apalah guna berkontribusi besar dalam memenuhi kebutuhan manusia tapi abai dalam melestarikan hutan maupun alam yang pada hakikatnya perusahaan memegang peranan penting selain konsumen dalam memelihara kelestarian lingkungan.

Telah kita lihat fakta di lapangan yang begitu mengejutkan tentang masih terdapatnya perusahaan atau produsen yang berpangku tangan atas pelestarian lingkungan yang sejatinya adalah menjadi tanggung jawabnya sebagai pemilik usaha yang telah memanfaatkan alam untuk mendapatkan keuntungan. Itulah yang terjadi kini dimana perusahaan hanya berlomba-lomba dalam mendapatkan dan mencari keuntungan sebanyak dan sebesarnya tanpa memperhatikan akibat dampak lingkungan yang disebabkan oleh kegiatan usaha yang dilakukan oleh perusahaan tersebut.

Lalu apakah kita akan tinggal diam jikalau melihat realita yang ada jikalau flora dan fauna seperti contoh kasus Orangutan yang habitatnya kian hari kian terkikis dan kian musnah akibat alih fungsi lahan dari hutan menjadi kebun sawit. Tentunya kita tidak ingin anak dan cucu kita kelak tidak lagi mengenali bahkan tidak lagi melihat keberadaan satwa khas Indonesia tersebut atau bahkan lebih ekstrem lagi jikalau satwa khas Indonesia hanya muncul dan menjadi pembahasan di buku maupun dalam pelajaran sejarah di sekolah-sekolah karena fauna tersebut hanyalah tinggal kenangan di masa lalu serta kita tentunya tak ingin juga keberadaan satwa yang ada di Indonesia saat ini hanyalah menjadi cerita belaka seperti satwa Harimau Jawa yang kerap menjadi cerita atau kisah yang bernilai jual tinggi yang dapat meningkatkan rating pada acara misteri di layar televisi.

Sebagai konsumen, untuk menyikapi permasalahan ini, apa yang kiranya bisa kita lakukan? Adalah berlaku teliti, cermat dan bijak sebelum membeli suatu produk. Jikalau ada sanggahan tentang perilaku teliti dan cermat dalam membeli seperti misalnya, “saya sudah teliti kok saat membeli produk ini, saya sudah cek kok harga produk ini lebih murah dibanding di toko sebelah, saya sudah cek label halal dan tanggal kadaluarsanya aman kok!”. Ya sanggahan seperti itu memang tidak salah, namun dalam konteks ini hal seperti itu saja belumlah cukup.

Dalam konteks ini kita dituntut untuk menjadi konsumen dan pembeli yang benar-benar cerdas dan bijak dengan mencari tahu informasi tentang produk yang akan kita beli secara detil. Apa saja yang mesti kita ketahui atau kita cari tahu sebelum membeli?  Ada baiknya kita mencari tahu tentang komposisi, bahan baku yang digunakan dalam produk yang akan kita gunakan tersebut dan lebih baik lagi kita mengetahui tentang bagaimana produk tersebut di produksi.

Hal ini sebenarnya cukup mudah untuk diterapkan dan dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, cukup kita melihat pada kemasan yang tertera pada produk mengenai detil bahan baku yang digunakan. Lalu jika kita memang tidak begitu paham, apa bahan baku yang terdapat pada produk tersebut aman digunakan dan menggunakan bahan baku yang ramah lingkungan, kita bisa mengandalkan kecanggihan teknologi melalui media internet untuk dapat mempelajari terlebih dahulu tentang hal yang berkaitan dengan produk.

Jika kita memang sudah cukup memahami betul tentang latar belakang produk yang akan kita gunakan dan telah memenuhi kriteria sebagai produk yang ramah lingkungan, silahkan Anda mempunyai hak untuk membeli dan menggunakannya. Namun jikalau memang kita sudah mempunyai pengetahuan yang mendalam seputar produk yang akan kita gunakan namun kita menemukan produk yang akan kita beli atau gunakan tersebut ternyata tidak termasuk dalam kriteria produk yang berbahan baku ramah lingkungan, kita pun juga mempunyai hak untuk tidak menggunakan dan membeli produk tersebut dan kita bisa mencari alternatif produk lain yang serupa yang menggunakan bahan baku ramah lingkungan.

Semakin tinggi atau sering intensitas kita dalam membeli dan menggunakan suatu produk tertentu itu merupakan sebuah reward / penghargaan besar bagi perusahaan yang memproduksi produk yang kita gunakan terlepas dari kita mengetahui atau tidak proses produksi dan bahan baku yang digunakan dalam produk tersebut karena perusahaan semakin diuntungkan dengan makin seringnya konsumen membeli produk tersebut.

Sementara itu dengan kebijakan, kecermatan dan ketelitian kita sebelum membeli produk kita menjadi memiliki pengetahuan yang mendalam tentang produk yang akan kita gunakan sehingga dalam membeli kita akan lebih jeli dalam membeli dan memilahnya terlebih dahulu produk mana yang layak dibeli dan digunakan.

Jikalau konsumen sudah memiliki kecerdasan dalam memilah produk mana yang baik untuk dikonsumsi atau digunakan dan sudah memiliki keberanian dan komitmen untuk tidak menggunakan produk yang tidak ramah lingkungan dalam proses produksnya hal akan menjadi sebuah punishment / hukuman tersendiri bagi perusahaan atau produsen yang kerap abai dalam memegang tanggungjawabnya untuk tetap menjaga kelestarian lingkungan dan keseimbangan ekosistem di Indonesia yang dengan begitu profit yang akan didapat perusahaan pun akan menurun dengan sendirinya.

Melalui tulisan ini penulis berpesan pada diri penulis sendiri khusunya bagi masyarakat luas agar berkomitmen untuk belajar bagaimana menjadi konsumen dan pembeli yang baik, tidak hanya baik tapi juga harus cerdas, teliti dan juga bijak untuk menjaga agar keberlangsungan kehidupan di Indonesia menjadi seimbang dan lebih baik darpada sekarang.

Sekian dan terimakasih.

Rizqi shambu

Muhammad Rizqi also know as "shambu." Graphic designer, photographer, video editor, creativepreneur & blogger / writer since 2011, based in Depok, West Java, Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published.