AKSI BELA ISLAM 313: TANGKAP PENISTA AGAMA (Part 1)

Dari Kamis malam kuota internet smartphone saya sudah habis, walhasil semua pesan yang masuk via WA maupun messenger lainnya pun tidak masuk / tidak muncul. Tibalah keesokan harinya ketika Jum’at pagi, syukur Alhamdulillah, ketika HP terkoneksi dengan Wi-Fi akhirnya segala nontifikasi dari berbagai aplikasi pun akhirnya muncul, salah satunya adalah pesan ajakan dari teman saya untuk ikut bergabung di Aksi Bela Islam 313 di seputaran Masjid Istiqlal.

T: Mbu, kayaknya dari bocah gw bakal ada 7 orang yang jalan ikut aksi. Barusan jam 6 pagi gw jalan dan sekarang gw udah di Istiqlal, lu gimana nih?

S: Gw di rumah gi, gw kayaknya gak ikut nih.

T: Yakin lo gak ikut? Pasti nyesel deh kalau lo gak ikut. Nih liat deh di foto gw, Istiqlal udah rame banget nih.

S: Ya udah deh gw jalan sekarang ya, nanti ketemu disana.

(T) adalah teman dan (S) adalah saya.

Begitulah kiranya isi percakapan saya dengan teman saya Mas Agi yang juga teman kuliah saya itu mengajak saya ikut aksi.

Awalnya sih sempat berpikir untuk tidak ikut aksi karena ingin menyelesaikan pekerjaan yang masih menumpuk, akhirnya di pagi hari menjelang siang itu saya memutuskan untuk turut serta dalam aksi damai tersebut, tetapi karena saya juga merasa sayang jika memiliki waktu yang lowong tapi tak ikut turun aksi bela Islam, akhirnya urusan pekerjaan yang belum selesai ini  pun akhirnya saya nomor duakan karena yaa masih bisa dikerjakan sepulang dari sini.

Bayangkan, sekitar jam 7-an pagi teman saya sudah sampai disana. Tetapi di jam 9 pagi-an ketika itu saya masih belum apa-apa. Sehingga ketika saya dengan spontan mengiyakan ajakan gabung kesana saya pun bergegas siap-siap makan, mandi dan kemudian berangkat.

Mendekati jam 10 pagi saya pun berangkat dengan bersepeda motor. Cuaca yang agaknya cerah itu menemani perjalanan saya menuju Stasiun Kereta. Mengapa Stasiun Kereta? Ya, karena saya memilih tidak sepenuhnya menggunakan motor untuk sampai lokasi tetapi naik KRL atau Commuter Line dan motornya ditipkan di penitipan motor samping Stasiun.

Baca Juga: UNDER EXPOSURE YANG PENUH MAKNA DI 112

Stasiun Pondok Cina, Margonda, Depok menjadi tujuan saya saat itu karena jaraknya yang relatif terjangkau dari rumah dan juga jarak tempat penitipan motornya yang relatif dekat dengan Stasiun.

Alhamdulillah, beruntung sesampai saya di Stasiun saya masih mendapatkan tempat di penitipan motor yang tak terlalu jauh dari pintu masuk Stasiun. Karena saya baru pertama menitipkan motor di sana, saya pun banyak bertanya perihal penitipan motor disana, ternyata tarifnya hanya Rp 6000,- sampai batas maksimal jam 9 malam dan motor tidak bisa diinapkan karena besoknya penitipan motornya libur. Lagipula saya tidak berniat untuk menginapkan motor karena palingan paling lambat di waktu Maghrib saja acaranya sudah selesai.

Baiklah, saatnya kita berlanjut masuk ke Stasiun Kereta, mengantre membeli tiket ke lokasi stasiun tujuan yaitu menuju Stasiun Juanda karena letaknya tidak begitu jauh dengan Masjid Istiqlal. Setelah tiket terbeli, inilah dia momen yang paling ditunggu-tunggu, jeng 3x… Ialah menunggu kereta Commuter Line tiba.

Menunggu bisa jadi hal yang membosankan, tetapi saat itu rasa bosan itu sirna karena saya bertemu banyak sahabat / saudara se-Iman yang memiliki tujuan yang sama untuk turut serta dalam membela agama Islam dalam Aksi Damai 313 ketika Islam telah dinistakan oleh calon Gubernur Petahana, Pak Basuki alias Ahok (versi Instagram banyak yang menyebut nama Pak Ahok dengan sebutan Adog maupun Hoax).

Dan menunggu pun menjadi tidak terasa ketika saya mencoba memotret situasi Stasiun Pondok Cina pagi itu. Yuk intip momen yang berhasil saya abadikan dari menunggu kereta hingga ketika berada di kereta dengan berbekal kamera saku yang saya bawa berikut ini:

Ternyata Masjid Istiqlal dan sekitarnya sudah ramai dipadati oleh masa aksi Bela Islam yang mayoritas mengenakan pakaian berwarna putih. Warna putih yang melambangkan kesucian itu pun juga turut saya kenakan pada pakaian / baju Muslim saya saat itu. Subhanallah, betapa semangatnya para jama’ah ketika berbondong-bondong menuju rumah Allah untuk menunaikan ibadah Shalat Jum’at walaupun mesti bersahabat hujan.

Saya berjalan menuju Masjid bersama serombongan saudara Ikhwan dan Akhwat sambil sesekali memotret suasana di tengah hujan gerimis dan jalanan yang mulai becek.

Bahkan saking ramainya para jamaah atau para peserta aksi masa, akses menuju ke lokasi saja sempat ditutup untuk kendaraan bermotor, ketika akses jalan tidak ditutup yang ada malah kendaraan sangat sulit untuk bergerak karena terhalang oleh para pejalan kaki yang tumpah ruah memadati jalan.

Suasana di Stasiun Juanda, Jakarta, www.shambustory.com
Suasana di Stasiun Juanda, Jakarta.
www.shambustory.com
Terilhat mobil dari kru berita MNC News di pelataran Masjid Istiqlal.

Ditengah perjalanan menuju ke dalam Masjid, tetiba langkah saya terhenti ketika ditengah keriuhan masa 313 yang berada di sekitar Masjid itu saya menemui dua orang Bule yang tengah berjalan diantara keramaian, entahlah mereka berdua ini ikut aksi atau hanya sekedar penasaran dengan keramaian ini karena sama sekali saya tidak berinteraksi dengan mereka.

www.shambustory.com
Kehadiran Bule di Masjid Istiqlal pada aksi damai 313.

Mas bule aja ikutan aksi, masa kamu enggak? Hehe.

Bertemu dengan mas bule disela-sela aksi dan sebelum Shalat dimulai sudah. Nah bagaimana kelanjutan cerita saya ketika mengikuti aksi Bela Islam super-duper berjalan dengan damai ini? Nantikan kisahnya di tulisan selanjutnya ya.

Terimakasih sudah mampir membaca blog shambustory.com ya, salam persahabatan dan salam ukhuwah dari saya 🙂

Wassalamu’alaikum.

 

Rizqi shambu

Muhammad Rizqi also know as "shambu." Graphic designer, photographer, video editor, creativepreneur & blogger / writer since 2011, based in Depok, West Java, Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published.