uluwatu-bali_img

MENENGOK PESONA ULUWATU, BALI

Indonesia memiliki ribuan bahkan jutaan lebih lautan yang eksotis serta mampu menarik turis lokal hingga mancanegara untuk berwisata. Salah satunya yaitu Bali. Beberapa pengunjung sering menghabiskan liburan bersama keluarga, kekasih, atau sahabat di pulau ini. Di Bali juga banyak spot wisata yang masih belum diketahui banyak orang seperti Pantai Karma.

MENENGOK PESONA ULUWATU, BALI
(Sumber : pasirpantai.com)

Pantai ini terletak di bagian selatan pulau Bali. Anda hanya membutuhkan waktu lebih kurang 30 menit dari bandara Ngurah Rai dengan lalu lintas lancar. Karma merupakan private beach sehingga masih belum terjamah orang banyak. Tempat ini cocok bagi Anda yang ingin wisata ke tempat yang tidak ramai namun teduh dan dapat sambil menikmati keindahan bawah laut atau sekadar sun-bathing.

Pantai Karma berada di bawah naungan atau dikelola langsung oleh Karma Kandara Resort yang terletak di Jalan Villa Kandara Banjar Wijaya Kusuma Ungasan, Uluwatu, Bali. Terdapat dua cara untuk tiba di di Pantai. Pertama, menginap di Karma Kandara Resort yang bisa Anda booking melalui Traveloka. Tipe kamar yang disediakan antara lain 1 bedroom pool, 2 bedroom pool, 3 bedroom pool, 4 bedroom pool, dan cliff-front residences.

MENENGOK PESONA ULUWATU, BALI
(Sumber : pasirpantai.com)

Resort megah ini berada di atas tebing dan Pantai Karma berada di balik tebing sehingga untuk sampai di pantai maka Anda harus turun menggunakan inclinator melalui Sunday Beach Club. Memang akan terlihat menyeramkan karena harus melihat langsung tebing yang curam. Maka, Anda yang takut dengan ketinggian tidak disarankan untuk menggunakan cara ini.

Pilihan kedua, membutuhkan tenaga ekstra dan fisik yang kuat serta suka dengan tantangan karena Anda akan menuruni sekitar 250-300 anak tangga. Anda bisa masuk melalui jalan kecil yang berada di sebelah pintu masuk Di Mare Restaurant. Bila Anda membawa kendaraan maka bisa memarkirkannya di kawasan Pura. Jadi, Anda pilih yang mana?

MENENGOK PESONA ULUWATU, BALI
(Sumber : bali-indonesia.com)

Selain Pantai Karma, ada wisata terdekat lainnya di kawasan Ungasan, Uluwatu ini seperti Pura Uluwatu yang terletak di atas tebing dan di bawahnya merupakan hamparan laut dengan ombak besar. Untuk menghormati tempat beribadah umat Hindu, maka pengunjung diwajibkan mengenakan pakaian adat Bali berupa rok panjang dan selendang yang diikat di pinggang. Anda juga dapat menonton tari Kecak yang dilakukan 50-100 orang dengan biaya tambahan.

MENENGOK PESONA ULUWATU, BALI
(Sumber : wikimedia.org)

Ada lagi Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana atau yang biasa disingkat dengan GWK. Berjarak hanya 4.8 km dari Karma Kandara Resort. Tempat ini turut menjadi salah satu objek wisata terkenal di Bali dan sayang untuk dilewatkan. Di dalamnya terdapat patung besar Dewa Wisnu dan Garuda yang ditungganginya. Anda juga dapat melihat berbagai pertunjukkan seperti Tari Kecak, Tari Barong dan Keris, Ballet Garuda Wisnu, Tari Joged Bumbung, dan lainnya.

MENENGOK PESONA ULUWATU, BALI
(Sumber : cinta-wisatanusa.blogspot.co.id)

Di Street Theater GWK terdapat tempat souvenir khas Bali dan merchandise dari GWK sendiri yang merupakan titik awal dan akhir kunjungan GWK. Anda bisa mengunjungi GWK Souvenir Shop dan Bali Art Market sehingga Anda bisa membawa buah tangan ke pada teman, keluarga, bahkan mungkin rekan kerja.

Soal tempat wisata, Bali tidak diragukan lagi karena serba indah dan mampu memikat para wisatawan. Namun, jangan lupa juga kalau di sini tentunya memiliki makanan khas yang dapat Anda nikmati seperti ayam betutu, sate lilit, nasi jingo, nasi campur ayam Bali, dan masih banyak lagi. Perlu diketahui bahwa di beberapa tempat makan tersedia menu babi, jadi untuk Anda yang beragama muslim pastikan bertanya terlebih dulu.

Di Jalan Uluwatu sendiri khusunya Jimbaran, berdiri sejumlah rumah makan yang menyediakan beragam menu, misalnya Nasi Ayam Ibu Oki yang dihidangkan bersama dengan sambal matah dan sayuran urap. Cara memasak ayam pun berbeda karena dipadukan dengan bumbu kental basa gede yakni campuran jahe, kemiri, lada, sereh, terasi, serta kunyit sehingga terasa manis dan gurih.

MENENGOK PESONA ULUWATU, BALI
(Sumber : fabulousubud.com)

Selanjutnya, Jimbaran Bay Seafood dengan latar Pantai Jimbaran. Anda bisa menikmati hidangan sambil mendengar deburan ombak dari dekat. Menu yang ditawarkan tentunya ialah hasil laut seperti ikan baronang, barakuda, udang panggang, dan masih banyak lagi. Harga pun bervariasi tergantung dari beratnya timbangan seafood dengan kisaran Rp17.000 sampai Rp 250.000 per gram.

Wahhh puas sekali ya jika berkeliling Uluwatu. Selain memanjakan mata dengan mahakarya Sang Pencipta, Anda juga bisa sambil berwisata kuliner. Ayo segera ke Bali!

Tulisan ini disponsori oleh Traveloka.

Featured image: www.bali-indonesia.com, diedit oleh www.shambustory.com.

_hari-pemenang_

Hari Barunya Para Pemenang

Menahan lapar dan dahaga dibarengi dengan berfikir lebih keras daripada biasanya, itulah yang saya lakukan selama separuh waktu di bulan Ramadhan / bulan Puasa 2016 lalu. Pada momen Ramadhan itu ketika orang-orang berlomba dalam mencari pahala, saya pun tak mau kalah ikut berlomba juga, yaitu berlomba dalam menyelesaikan Tugas Akhir saya demi menggapai mimpi saya untuk menjadi sarjana, hehe :).

Ditengah pergolakan batin yang begitu membara demi mengejar dateline penyelesaian Tugas Akhir saya mencari berbagai cara agar saya bisa tetap survive dan juga have fun dalam mengerjakan pembuatan karya akhir saya ini. Adalah dengan bekerja sambil mendengarkan musik yang saya lakukan ketika sedang mengerjakan TA dengan harap bisa menjaga semangat ketika mulai kendor dan juga untuk memacu munculnya ide segar agar pembuatan tugas ini bisa membuahkan hasil yang maksimal.

Ketika saya sedang browsingbrowsing lagu / video klip  di YouTube, secara tidak sengaja saya menemukan video klip dari lagu RAN feat Tulus yang berjudul Para Pemenang. Setelah mendengar lagunya dan menonton video klipnya sejenak, ternyata lagunya sangat enak didengar, easy listening, cukup menggairahkan dan ditambah dengan suguhan musik yang menurut saya cukup simple dan tidak njelimet kata orang Jawa bilang sehingga cukup nyaman dan tidak membosankan untuk didengar berkali-kali yang tentunya ini menambah semangat saya untuk menyelesaikan Tugas Akhir yang sudah diujung tombak pada saat itu.

Well, ladies and gentleman.. Inilah dia lagu dan video klip RAN feat Tulus – Para Pemenang yang menjadi mood booster saya dan sempat menjadi playlist saya ketika sedang menyelesaikan Tugas Akhir beberapa waktu yang lalu:

Sedang sok serius dan sok asyik mengerjakan TA S1, tetiba saya teringat dan seakan dipaksa untuk mencoba flashback ke tiga tahun lalu tepatnya tahun 2013 dimana saya sedang berjibaku dan berpahit getir juga demi menyelesaikan TA D3 saya sewaktu kuliah di jurusan Periklanan Politeknik Negeri Media Kreatif Jakarta. Dimana ketika sedang menyelesaikan TA saat itu, untuk memunculkan semangat dan ide dalam menulis laporan atau proposal karya saya pun menggunakan treatment dengan mendengarkan musik.

Sama seperti ketika saya sedang mengerjakan TA S1. Ketika itu saya sedang iseng menonton YouTube, secara tidak sengaja saya menemukan lagu / video klip yang memberikan stimulan berupa semangat saat saya sempat berada dalam kondisi jatuh dan bangun selagi mengerjakan TA D3, yang tidak lain juga masih lagu dari grup yang sama yaitu RAN yang berjudul Hari Baru yang pada akhirnya benar-benar menjadi trigger bagi saya untuk tidak patah semangat dan untuk dapat bangkit dari keterpurukan yang kerap dialami oleh Mahasiswa tingkat akhir demi meraih gelar Ahlimadya, hhhmmm, Subhanallah.

Di lagu ini RAN tidak sedang featuring dengan musisi lain. Inilah RAN yang apa adanya yang saya suka. Musik yang sederhana dan video klip yang digarap dengan konsep yang sederhana pula yang menurut saya pesan dari lagunya dapat tersampaikan dengan baik ditambah dengan angle pengambilan gambar dan editing yang rapi membuat saya tidak bosannya mendengarkan dan menonton video klip lagu Hari Baru ini.

Seperti apa rupa irama dan visual dari video klip lagu kini? Ini dia penampakan video klip RAN – Hari Baru:

Di waktu yang sangat bersejarah dalam hidup saya ketika sedang berjuang menyelesaikan Tugas Akhir, inilah lagu yang menjadi salah satu playlist di media player komputer saya, sungguh mengasyikkan, uuuhhlalaaaa…

Tidak berhenti sampai di momen Tugas Akhir saja, tetapi lagu RAN feat Tulus – Para Pemenang ini kini juga menjadi salah satu playlist saya ketika sedang bekerja karena saya sedang butuh irama yang sekiranya memberikan semangat sama seperti ketika saya sedang berada di medan perang untuk meraih gelar Sarjana.

Bagi saya kedua lagu ini memiliki pesan yang sama yaitu untuk memberikan kita semangat dan motivasi untuk bangkit dari kegagalan atau keterpurukan demi meraih kemenangan. Alhamdulillah, lagu ini cukup bermakna bagi saya karena telah mengiringi beberapa momen penting dan bersejarah dalam hidup saya.

Itulah Hari Barunya Para Pemenang, semoga kitalah “Para Pemenang” itu, Amin.

Apakah pandangan / pendapat kalian soal kedua lagu dari musisi terbaik negeri ini senada dengan saya atau bahkan berlawanan? Share pendapatnya yuk sahabat :D.

Salam, Muhamamd Rizqi Hidayatullah @shambuimaji.

Judul tulisan merupakan penggabungan dari kedua judul lagu Hari Baru dan Para Pemenang.

Sumber gambar: hipwee.com & poskotanews.com | diedit oleh www.shambuimaji.com.

pelatihan-biogas

Lembang Dalam Pelatihan Biogas

Lama tidak update blog, akhirnya saat ini saya coba turun gunung untuk mulai menulis kembali, mengisi lembar demi lembar yang kosong ini. Saatnya menyimak cerita saya berikut ini:

Tibalah saya di Kecamatan Lembang yang kini sudah menjelma menjadi bagaikan sebuah kota yang terbilang lumayan cukup ramai. Angkot berwarna cream jurusan Ciroyom – Lembang telah berhasil membawaku kepada sebuah daerah yang keberadaanya selalu dirinudukan.

Ya, Lembang selalu membawaku selalu ingin kembali ke pangkuannya. Kali ini aku sedang kembali kepada pangkuan sebuah wilayah yang masuk dalam Kabupaten Bandung Barat ini yang tidak lain adalah karena saya hendak mengikuti pelatihan / training mengenai pembuatan Biogas yang diselenggarakan oleh Yayasan Rumah Energi di PT. Bhumi Asri Lumigar (PT. BAL).

logo-yre
Logo Yayasan Rumah Energi

 

Pelatihan Biogas kini berlokasi di Lembang. Yeaah akhirnya saya bisa menapak tilas kembali disini karena dulu saya sempat singgah tinggal disini selama beberapa waktu ketika Ibu saya ditugaskan disini dan ketika juga saya masih tinggal di Bandung yang pada akhirnya membuat saya cukup jatuh cinta dengan Kecamatan ini.

Alhamdulillah saya diberi kesempatan untuk mengikuti pelatihan pembuatan reaktor Biogas selama kurang lebih hampir 9 hari dan selama hampir 9 hari pula saya mesti meninggalkan rumah di Depok. Hmm, apa itu reaktor Biogas? Silahkan cek link berikut ini untuk lebih jelasnya: http://www.biru.or.id/index.php/digester/.

Adalah Biogas Rumah atau disingkat BIRU yang merupakan program dari Yayasan Rumah Energi. Disini PT. BAL sebagai mitra dari Yayasan Rumah Energi dalam pembuatan atau pembangunan reaktor Biogas oleh karenanya dilakukanlah pelatihan bagi para tukang dari PT. BAL dalam membangun reaktor ini. Lalu apa peran saya disini? Apakah menjadi tukang?

logobiru
BIOGAS RUMAH; Olah Limbah Jadi Berkah.

Saya bukan menjadi tukang disini, tetapi saya hanya menjadi perwakilan saja dari Yayasan Anugrah Illahi yang telah lebih dulu mengadakan pelatihan pembuatan Biogas di Sukabumi, Jawa Barat dan sekaligus untuk menambah iilmu dan mematangkan kembali perihal Biogas ini dari segi pembangunan yang bersifat teknis maupun bersifat non teknis.

 

Seperti apa pelatihannya? Selama dua hari adalah teori yang berada di dalam kelas, kemudian di hari ketiga hingga selesai adalah praktek membangun reaktor Biogas di lapangan.

Berikut ini adalah beberapa foto dokumentasi selama saya mengikuti kegiatan pelatihan pembuatan Biogas:

Ngggg, apa lagi ya? Nggg, saya rasa saat ini sekian dulu sharing saya mengenai pengalaman saya dalam pelatihan pembbuatan biogas ini. Terimakasih atas atensi teman semua terhadap blog ini. Semoga apa yang saya tulis ini bisa bermanfaat bagi kamu pengunjung belog ini, iya kamu.

Akhirnya, cukup sudah kerinduan akan menulis di blog ini pun terobati lewat sedikit kata dan kalimat yang coba saya rangkai dalam tulisan ini dan semoga kerinduan para pembaca akan karya tulis saya pun juga dapat terobati.

Lembang, Bandung, 27 September 2016 dalam pelatihan Biogas.

Karni Ilyas Lahir Untuk Berita

Minggu sore itu sepulangnya saya dari kampus, cuaca di kota Depok mulai agak mendung dan nampaknya ini akan turun hujan. Ketika itu saya tidak hendak langsung pulang ke rumah tapi saya sengaja ingin mampir dulu ke kampus UI Depok untuk sekedar numpang Shalat Ashar, numpang ngaso (istirahat) sekaligus numpang mencari ide dan inspirasi, hehe.

Karena sepertinya akan turun hujan di sekitar Depok, selepas saya Shalat Ashar di Masjid UI saya tidak memutuskan untuk buru-buru beranjak pulang tetapi memilih untuk santai-santai dulu di selasar Masjid. Dan waktu pun terus berjalan, semakin sore awan memang agak mendung tetapi hujan pun tak kunjung turun, akhirnya saya memutuskan untuk beranjak keluar dari Masjid untuk kemudian mengambil motor dengan arah tujuan yang belum tahu mau kemana sebab saat itu saya masih malas pulang ke rumah.

Sebelum keluar area kampus UI, kurang afdol rasanya bagi saya jika saya tidak mutar-mutar mengelilingi area kampus yang lumayan hijau, ridang dan cukup adem ini. Lalu seperti biasa, jika ingin menuju arah pulang ke rumah saya dari arah UI bisa lewat Kelapa Dua ataupun lewat Jl. Margonda Raya juga bisa.

Yay, saya pun memilih lewat jalan protokol kota Depok, Jl. Margonda Raya. Berhubung waktu masih sore, masih sekitar jam 5-an dan saya juga masih malas pulang akhirnya saya mengarahkan laju kendaraan saya untuk mampir ke Gramedia Depok yang ada di Margonda untuk sekedar melepas rasa jenuh dan lagi-lagi untuk sekedar mencari ide dan inspirasi serta untuk menambah dan menggugah semangat diri untuk berkarya, hehe.

Niatnya hanya ingin mampir melihat saja karena memang tidak ada rencana untuk beli atau cari buku khusus di sana. Terutama sih saya ingin melihat atau baca buku Soe Hok Gie “Sekali Lagi” yang pada beberapa waktu lalu sempat bukunya  saya lihat di sini tetapi masih disegel, jadi belum atau tidak bisa dilihat dan dibaca isinya. Tetapi kemarin saya menjumpai bukunya pun masih disegel dan stok bukunya juga hanya sedikit, padahal saya berharap sudah ada buku yang terbuka segelnya supaya saya bisa baca sekilas, biar kalau isinya menarik bakalan saya beli. Dan setelah dilirk-lirik ternyata harganya kurang menarik di kantong, hahaha.

Setelah mutar-mutar di Gramedia akhirnya saya menemukan buku biografi tentang Karni Ilyas yang letaknya di rak yang sama dengan buku Soe Hok Gie tadi dan kebetulan ada buku yang sampulnya sudah terbuka, jadi saya bisa baca dulu sekilas isi buku ini.

Karni Ilyas Lahir Untuk Berita
Karni Ilyas Lahir Untuk Berita. Arsip shambustory.com / Pustaka Imaji.

Buku dari rak pun saya raih dan kemudian membuka lembar demi lembar buku yang lumayan tebal tersebut. Karena berdiri lumayan capek, akhirnya saya memilih untuk duduk di lantai di dekat kaca untuk sedikit membaca buku ini. Tetapi apa daya, saking menariknya isi buku biografi Pak Karni Ilyas ini, tidak sedikit lembaran buku yang saya baca. Bahkan saking asyiknya saya membaca dan menilisik halaman demi halaman buku ini, sampai saya tidak ingat waktu bahwa saat itu sudah memasuki waktu Maghrib, haha bisa begitu ya 😀

Karena mengingat waktu Maghrib akan segera berganti dengan waktu Isya, saya pun harus segera mengambil keputusan cepat untuk membawa pulang buku ini dengan membelinya atau hanya akan membaca di tempat saja sampai lupa waktu, hehe. Sebelum keputusan ini diambil, saya pun menukar buku yang belum disegel ini dengan buku yang masih segel dan kemudian melihat label harga dari buku ini sesuai dengan kantong atau tidak, haha.

Setelah dilihat-lihat harganya masih sesuai dengan kantong terlebih harga buku ini masih jauh lebih murah sedikit dibanding dengan bukunya Soe Hok Gie. Akhirnya saya berkeputusan untuk segera ke kasir supaya bisa membawa pulang buku ini dengan cara yang aman, hehe.

Sempat bimbang ketika hendak menuju kasir, mau bayar pakai uang tunai atau pakai debit ya? Dengan berbagai pertimbangan saya pun memilih membayar dengan menggunakan debit. Dan tanpa diduga-duga saya pun dapat potongan harga senilai atau sekitar Rp.4.000,- an yang mungkin tidak akan didapat jika membayar dengan uang cash, Alhamdulillah rejeki anak soleh hahaha.

Well, ending-nya..

Finally, Alhamdulillah buku ini berhasil dibeli walau sebenarnya tanpa ada rencana beli-beli, hehe. Dan sekarang saatnya membaca dan mengambil hikmah dan suri tauladan yang baik dari perjalanan Pak Karni Ilyas selama hampir 40 tahun lebih berkarir sebagai seorang Jurnalis.

Saya memiliki keputusan untuk membeli buku ini tak lain adalah karena Bapak Karni Ilyas merupakan salah satu wartawan senior yang menjadi favorit saya dan cukup menginspirasi serta memotivasi saya untuk tetap menjaga semangat dalam berkarya atau bekerja dan menanamkan kecintaan dan totalitas diri yang tinggi terhadap profesi yang kita lakoni atau dalam bekerja maupun berkarya.

So, buku ini bisa dibeli di toko buku seharga Rp.86.000,-.

Semoga bermanfaat, terimakasih 🙂

Radio

Radio Saat Berkendara

Terakhir berkendara dengan mobil sih kemarin Jum’at dari Depok menuju Sukabumi. Namanya berkendara atau berperjalanan pakai mobil rasanya ada yang kurang kalau kita melalui perjalan kita tanpa minimal mendengarkan radio, oleh sebab hampir setiap mobil pasti ada radionya.

Begitupun saya, biasa membunuh waktu di perjalanan ketika berkendara mobil sambil mendengar radio. Terutama kalau lagi jalan di daerah kota nih biasanya gelombang radionya masih dapat yang bagus dan berkualitas, jadi sayang banget kalau saya enggak sama sekali dengar radio.

Nah karena saya tinggal di Depok dan mayoritas saya lebih sering berkendara dan berpergian di dalam kota (kalau pergi ke luar kota bisa dihitung jari) menggunakan mobil, saya kerap mendengarkan radio lokal yang ada di Jakarta dan sekitarnya yang frekuensi atau gelombangnya masih bisa dijangkau.

Lalu biasanya saya dengar radio apa sih kalau di jalan?

Jujur deh, saya enggak begitu hafal banget dengan channel radio-radio yang ada di Jakarta dan sekitarnya ini. Tapi setidaknya saya biasanya lebih cenderung mendengar radio yang diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Radio dengan konten dakwah atau ceramah
  2. Radio dengan konten berita atau informasi lalu lintas
  3. Radio yang isinya sharing dengan para pakar / narasumber
  4. Radio yang memutar lagu-lagu

Itulah diantaranya konten radio yang saya sering dengarkan di mobil. Karena saya gak hafal channel berita tadi maka saya sih kadang suka asal-asalan aja nyari radio yang bagus dan enak untuk didengar pas di jalan.

Untuk radio dakwah saya kadang suka dengar Radio Rodja atau Radio Sillaturahim, radio tersebut kan frekuensinya AM dengn jangkauan siar yang cukup luas, jadi masih enak didengar walau jarak perjalanan kita sudah lumayan jauh dari lokasi siaran radionya. Lumyana lah diri dan hati ini kan juga perlu siraman rohani biar adem, hehe.

Kalau ngomongin radio berita dan informasi saya suka dengerin radio Elshinta nih sob. Radionya cukup edukatif, informatif dan atraktif dengan beraneka ragam berita dan informasi lalu lintas yang juga tak lupa mengajak para pendengarnya untuk berbagi info terkini yang diantaranya adalah info lalu lintas.

Wayang-Golek-dan-Antikorupsi-Talkshow-Festival-Antikorupsi-elshinta-radio-bandung
Radio Elshinta. Sumber: http://prung.org/

Btw, saya dengar radio ini sudah cukup lama loh, kalau enggak salah waktu zaman SMA udah mulai dengar nih hehe. Pokoknya radio ini paling wajib di dengar lah kalau lagi di jalan bahkan saya sampai apa nomor frekuensi radio ini hehe.

Ada juga beberapa radio lain seperti Smart FM, radio Sonora, Radio Dakta, Ras FM dan radio lainnya yang memperdengarkan atau menyiarkan konten program yang cukup bermanfaat yang enggak bisa saya sebut satu persatu.

Lalu radio musik atau lagu-lagu kok saya taruh di part paling akhir? Loh bukannya saya ini pecinta dan penikmat musik nih?

Jadi begini, bukannya saya enggak mendukung dan menikmati radio musik tetapi saya berpikiran kalau dengar lagu / musik itu kan sudah biasa dan kita pun bisa menikmati musik pada media lain selain radio dan juga bisa menikmati kapan saja dan dimana saja, oleh karenanya saya lebih cenderung memilih mendengar siaran berita / informasi ketimbang ketimbang siaran radio yang lebih cenderung memutar lagu. Tak lebih ini supaya ketika saya berkendara atau di jalan saya bisa mendapatkan informasi, ilmu dan pengetahuan yang bermanfaat.

Kalau khusus untuk radio lagu, saya kadang suka banget tuh dengerin radio Camajaya FM yang banyak memutar lagu-lagu nostalgia jaman dulu, tapi karena saya enggak hafal frekuensinya jadi saya terpaksa jarang dengar, hehe.

Well, itu saja sharing pengalaman saya mendengar radio ketika berkendara di mobil. Semoga bermanfaat ya 🙂

Nah, kalau kamu sukanya dengar radio apa nih kalau di jalan?

Featured imagehobbyaudio.blogspot.com

TAWP

Akhirnya Tugas Akhir

Wah, enggak terasa nih perkuliahan saat ini sudah masuk ke babak Tugas Akhir saja nih. Ya Allah, padahal mah TA nya udah dimulai dari kapan tau, tetapi saya baru sempat menuliskan tentang hal ini sekarang, haha.

Akhirnya setelah hampir dua tahun, saat yang dinanti dan paling ditunggu-tunggu pun tiba, Tugas Akhir tentunya. Ya, sekarang bisa dibilang sudah memasuki di bulan ke dua pengerjaan. Udah masuk bulan kedua nih, bagaimana dengan progres tugas saya?

Sebelum saya bahas lebih dalam tentang progres tugas saya, saya akan jelaskan terlebih dulu tentang Tugas Akhir saya secara umum. Keep Reading

Duka Indonesia: Wafatnya Mantan Imam Besar Masjid Istiqlal

mustafa-yakub-shmb

Innalillahi wa Innailaihi Rooji’un.

Telah berpulang ke Rahmatullah Prof. KH. Ali Mustafa Yaqub mantan Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta pada Kamis, 28 April 2016 kemarin setelah dikabarkan Beliau sempat dirawat di Rumah Sakit Hermina Ciputat, Tangerang Selatan.

Berita duka ini saya dapat atau saya ketahui dari beberapa akun Instagram komunitas / organisasi dakwah islam maupun juga para pemuka agama / Ustadz yang kebetulan saya follow akun IG mereka. Dan berikut ini adalah beberapa postingan di Instagram mengenai kabar / berita duka dari Alm. Pak Ali:

Mhn doa u beliau. Wafat. Shalatkan ghaib nanti pas zuhur berjamaah ya. Di semua masjid… Mksh ya…

A photo posted by Yusuf Mansur (@yusufmansurnew) on

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ اْلأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ النَّارِ . . . “Ya Allah! Ampunilah dia berilah rahmat kepadanya, selamatkanlah dia (dari beberapa hal yang tidak disukai), maafkanlah dia dan tempatkanlah di tempat yang mulia (Surga), luaskan kuburannya, mandikan dia dengan air salju dan air es. Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran, berilah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga (atau istri di Surga) yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia), istri (atau suami) yang lebih baik daripada istrinya (atau suaminya), dan masukkan dia ke Surga, jagalah dia dari siksa kubur dan Neraka.” (HR. Muslim no. 963) .. .. .. *kembali kami posting

A photo posted by teladan rasul (@teladan.rasul) on

Diantara musibah terbesar di negeri ini adalah kehilangan ulama besar yang senantiasa istiqomah menegakkan kebenaran.

A photo posted by Indonesia TanpaJIL (@tanpajil) on

Mendengar kabar duka tersebut, tetiba saya kembali teringat dan mencoba flashback ke satu tahun yang lalu dimana saya sempat mendegarkan ceramah Beliau sewaktu Shalat Tarawih di Masjid Istiqlal. Tulisan yang berjudul Tarawih di Masjid Istiqlal menjadi saksi bisu pengalaman saya dalam melewati malam Ramadhan 2015 di pekan pertama dengan mendengarkan dan menyaksikan ceramah Beliau yang sarat akan makna, ilmu serta hal positif lainnya.

IMG_5979
Dengan hikmat, para jama’ah Masjid mendengarkan ceramah Beliau, Prof. KH. Ali Mustafa Yaqub. Masjid Istiqlal, 2015.

Kini guru bangsa kita telah berpulang kepangkuan Allah SWT untuk selama-lamanya. Kepada para sahabatku seiman khusunya para pembaca dan pengunjung blog shambustory.com sekalian, marilah kita sama-sama bermunajah dan mengirimkan do’a untuk Beliau. Semoga amal ibadah Beliau diterima di sisi Allah SWT dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan, kekuatan dan kesabaran. Semoga Allah SWT memberikan tempat yang mulia disisi-Nya, Insya Allah Amin.

Terimakasih Alm. Prof. KH. Ali Mustafa Yaqub atas ilmu yang telah engkau berikan dengan tulus dan ikhlas kepada kami masyarakat Indonesia.

Al – Fatihah untuk Prof. KH. Ali Mustafa Yaqub.

Terimakasih, Wassalamu’alaikum.

Menjala Harapan; Reklamasi Teluk Jakarta

Proyek reklamasi teluk Jakarta kini sedang menjadi isu panas yang kerap menjadi pebincangan oleh segenap warga masyarakat khusunya warga Jakarta dan sekitarnya serta juga di berbagai media cetak, online maupun media elektronik.

Proyek yang merupakan program kerja pemerintah provinsi DKI Jakarta ini menimbulkan dan menyisakan banyak tanya yang diantaranya adalah tentang dampak baik dan dampak buruk dari begulir atau berjalannya proyek ini bagi lingkungan sekitar wilayah yang terdampak dan siapa sajakah yang diuntungkan maupun dirugikan dari berlangsungnya proyek pengurukan lautan di utara Jakarta menjadi sebuah daratan.

Melalui film dokumenter karya Toni Irsan yang bertajuk “Menjala Harapan” ini, sedikitnya kita diajak untuk menyelami realita yang terjadi  di tengah masyarakat yang bertempat tinggal berdekatan dengan lokasi terdampak reklamasi yang rata-rata atau sebagian besar berprofesi sebagai nelayan.

Cerita lengkapnya, silahkan tonton video dokumenter yang dipublikasikan di akun YouTube NC Pictures di bawah ini:

Setidaknya video di atas dapat memberikan gambaran kepada kita siapa sebenarnya yang salah dan siapa yang benar serta siapa yang sepatutnya diberikan perlindungan, keamanan dan kenyamanan di lokasi terdampak proyek reklamasi.

Semoga dengan ini kita dapat berpikir lebih jernih terhadap pihak mana yang semestinya kita bela dan kita dukung dalam proyek reklamasi yang menurut pandangan saya pribadi lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya.

Bantu share video atau tulisan ini jika memang kamu tidak ingin ekosistem dan lingkungan di sekitar Teluk Jakarta rusak atau hilang begitu saja akibat ulah keserakahan manusia, kepentingan penguasa serta kapitalisme yang kian hari kian merajalela dan kian tak terbendung lagi.

Semoga bermanfaat, terimakasih 🙂

Memanusiakan Manusia

12718335_943703445666437_7837901152473691433_n
Repost from KontraS

 

Tetaplah menjadi dirimu sendiri dengan segala keyakinan atau dengan penuh keyakinan yang kau punya untuk menciptakan kehidupan dunia yang lebih baik.

Memanusiakan manusia adalah salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk dapat menciptakan kehidupan dunia yang lebih baik. Terlebih rasa cinta, saling menyayangi dan saling mengasihi antara sesama manusia pun akan terjalin dengan sendirinya.

Kalau bukan kita siapa lagi yang akan saling mengerti dan memahami antar sesama manusia?

Sedangkan kita manusia, diberikan kelebihan oleh Allah SWT berupa akal dan pikiran yang sejati atau seharunya dapat menjadi jalan bagi diri kita untuk lebih memupuk dan menciptakan rasa cinta dan damai antar sesama.

Muhammad Rizqi Hidayatullah

Salman di Desa Pakuwon, Sukabumi

Sebuah cerita pendek bersambung fiksi. Tulisan / teks dan foto oleh Muhammad Rizqi Hidayatullah “shambu.”

Selamat membaca, terimakasih 🙂


Di tengah hamparan sawah yang membentang luas, laju motor Salman terhenti. Karena tak kuasa melihat indahnya pemandangan yang jarang ia temui di kota membuatnya memutuskan untuk menginstirahatkan sementara perjalanan dengan sepeda motornya.

Padahal menurut warga sekitar yang barusan ia tanya tentang alamat rumah yang dicarinya, alamat yang dituju jaraknya sudah dekat dari tempat ia bertanya tadi, tapi itulah Salman, orang kota yang jarang sekali bersentuhan dengan desa. Ia abaikan jarak yang sebenarnya sudah dekat dengan tempat tujuan demi menikmati jeda sejenak dalam buaian pemandangan desa dengan bentangan sawahnya dan semilir angin yang berhembus siang itu.

Ia lepaskan segala atribut berkendara yang dikenakan. Lalu ia usapkan wajah dengan tangan kanannya untuk menyeka keringat yang membasahi wajahnya yang merupakan efek dari panasnya cuaca di siang hari itu.

_Sukabumi_Blog
Landscape di desa Pakuwon, Parung Kuda, Sukabumi. Foto oleh Muhammad Rizqi @shambuimaji www.shambuimaji.com.

“Subhanallah, sempurna! Inilah Sukabumi yang sesungguhnya, Sukabumi yang sesungguhnya ads di desa Pakuwon ini, kapan-kapan mesti ajak Ratna dan kawan-kawan lain kesini nih, pasti mereka akan takjub sama seperti aku sekarang ini.” Begitu Salman berkata-kata pada diri sendiri.

Ratna yang ia sebut merupakan sahabat dekatnya yang belum lama mereka bertemu muka di danau Dora, Bogor.

Tak ingin kehilangan momen dan kesan pertama ketika berada di lokasi dengan keindahan yang begitu menakjubkan di mata Salman, dengan segera ia raih kamera DSLR yang ia bawa di tas ranselnya untuk mengabadikan kenidahan di sekitar desa Pakuwon dibilangan Kabupaten Sukabumi yang merupakan tempat ia berpijak saat ini.

Panas teriknya matahari di pinggiran sawah siang itu tak menyurutkan semangat Salman untuk tidak melewati momen pun waktu berharga yang dimilikinya tersebut. Melalui tangan terampilnya, ia arahkan lensa kameranya untuk membidik satu per satu lanskap yang begitu memanjakan mata.

Wajah sumringah pun terpancar dari wajah Salman. Begitu kesumringahan itu menyiratkan suatu kebahagiaan dari seorang pemuda yang lebih dominan mengkawani kota dengan segala kemewahan dan kegemerlapan yang diberikannya ketimbang mengkawani desa dengan segala macam keindahan yang diberikannya baik secara tersirat maupun secara tersurat yang belum dapat atau belum mampu diberikan oleh kota.

Desa Pakuwon siang itu telah menjadi saksi bisu ketakjuban Salman akan kebesaran dan keagungan Tuhan, Allah SWT yang menciptakan, memberikan dan menitipkan keindahan dunia di bumi Indonesia melalui Sukabumi.