Karni Ilyas Lahir Untuk Berita

Minggu sore itu sepulangnya saya dari kampus, cuaca di kota Depok mulai agak mendung dan nampaknya ini akan turun hujan. Ketika itu saya tidak hendak langsung pulang ke rumah tapi saya sengaja ingin mampir dulu ke kampus UI Depok untuk sekedar numpang Shalat Ashar, numpang ngaso (istirahat) sekaligus numpang mencari ide dan inspirasi, hehe.

Karena sepertinya akan turun hujan di sekitar Depok, selepas saya Shalat Ashar di Masjid UI saya tidak memutuskan untuk buru-buru beranjak pulang tetapi memilih untuk santai-santai dulu di selasar Masjid. Dan waktu pun terus berjalan, semakin sore awan memang agak mendung tetapi hujan pun tak kunjung turun, akhirnya saya memutuskan untuk beranjak keluar dari Masjid untuk kemudian mengambil motor dengan arah tujuan yang belum tahu mau kemana sebab saat itu saya masih malas pulang ke rumah.

Sebelum keluar area kampus UI, kurang afdol rasanya bagi saya jika saya tidak mutar-mutar mengelilingi area kampus yang lumayan hijau, ridang dan cukup adem ini. Lalu seperti biasa, jika ingin menuju arah pulang ke rumah saya dari arah UI bisa lewat Kelapa Dua ataupun lewat Jl. Margonda Raya juga bisa.

Yay, saya pun memilih lewat jalan protokol kota Depok, Jl. Margonda Raya. Berhubung waktu masih sore, masih sekitar jam 5-an dan saya juga masih malas pulang akhirnya saya mengarahkan laju kendaraan saya untuk mampir ke Gramedia Depok yang ada di Margonda untuk sekedar melepas rasa jenuh dan lagi-lagi untuk sekedar mencari ide dan inspirasi serta untuk menambah dan menggugah semangat diri untuk berkarya, hehe.

Niatnya hanya ingin mampir melihat saja karena memang tidak ada rencana untuk beli atau cari buku khusus di sana. Terutama sih saya ingin melihat atau baca buku Soe Hok Gie “Sekali Lagi” yang pada beberapa waktu lalu sempat bukunya  saya lihat di sini tetapi masih disegel, jadi belum atau tidak bisa dilihat dan dibaca isinya. Tetapi kemarin saya menjumpai bukunya pun masih disegel dan stok bukunya juga hanya sedikit, padahal saya berharap sudah ada buku yang terbuka segelnya supaya saya bisa baca sekilas, biar kalau isinya menarik bakalan saya beli. Dan setelah dilirk-lirik ternyata harganya kurang menarik di kantong, hahaha.

Setelah mutar-mutar di Gramedia akhirnya saya menemukan buku biografi tentang Karni Ilyas yang letaknya di rak yang sama dengan buku Soe Hok Gie tadi dan kebetulan ada buku yang sampulnya sudah terbuka, jadi saya bisa baca dulu sekilas isi buku ini.

IMG_20160523_104136
Karni Ilyas Lahir Untuk Berita. Arsip shambustory.com / Pustaka Imaji.

Buku dari rak pun saya raih dan kemudian membuka lembar demi lembar buku yang lumayan tebal tersebut. Karena berdiri lumayan capek, akhirnya saya memilih untuk duduk di lantai di dekat kaca untuk sedikit membaca buku ini. Tetapi apa daya, saking menariknya isi buku biografi Pak Karni Ilyas ini, tidak sedikit lembaran buku yang saya baca. Bahkan saking asyiknya saya membaca dan menilisik halaman demi halaman buku ini, sampai saya tidak ingat waktu bahwa saat itu sudah memasuki waktu Maghrib, haha bisa begitu ya 😀

Karena mengingat waktu Maghrib akan segera berganti dengan waktu Isya, saya pun harus segera mengambil keputusan cepat untuk membawa pulang buku ini dengan membelinya atau hanya akan membaca di tempat saja sampai lupa waktu, hehe. Sebelum keputusan ini diambil, saya pun menukar buku yang belum disegel ini dengan buku yang masih segel dan kemudian melihat label harga dari buku ini sesuai dengan kantong atau tidak, haha.

Setelah dilihat-lihat harganya masih sesuai dengan kantong terlebih harga buku ini masih jauh lebih murah sedikit dibanding dengan bukunya Soe Hok Gie. Akhirnya saya berkeputusan untuk segera ke kasir supaya bisa membawa pulang buku ini dengan cara yang aman, hehe.

Sempat bimbang ketika hendak menuju kasir, mau bayar pakai uang tunai atau pakai debit ya? Dengan berbagai pertimbangan saya pun memilih membayar dengan menggunakan debit. Dan tanpa diduga-duga saya pun dapat potongan harga senilai atau sekitar Rp.4.000,- an yang mungkin tidak akan didapat jika membayar dengan uang cash, Alhamdulillah rejeki anak soleh hahaha.

Well, ending-nya..

Finally, Alhamdulillah buku ini berhasil dibeli walau sebenarnya tanpa ada rencana beli-beli, hehe. Dan sekarang saatnya membaca dan mengambil hikmah dan suri tauladan yang baik dari perjalanan Pak Karni Ilyas selama hampir 40 tahun lebih berkarir sebagai seorang Jurnalis.

Saya memiliki keputusan untuk membeli buku ini tak lain adalah karena Bapak Karni Ilyas merupakan salah satu wartawan senior yang menjadi favorit saya dan cukup menginspirasi serta memotivasi saya untuk tetap menjaga semangat dalam berkarya atau bekerja dan menanamkan kecintaan dan totalitas diri yang tinggi terhadap profesi yang kita lakoni atau dalam bekerja maupun berkarya.

So, buku ini bisa dibeli di toko buku seharga Rp.86.000,-.

Semoga bermanfaat, terimakasih 🙂

Radio

Radio Saat Berkendara

Terakhir berkendara dengan mobil sih kemarin Jum’at dari Depok menuju Sukabumi. Namanya berkendara atau berperjalanan pakai mobil rasanya ada yang kurang kalau kita melalui perjalan kita tanpa minimal mendengarkan radio, oleh sebab hampir setiap mobil pasti ada radionya.

Begitupun saya, biasa membunuh waktu di perjalanan ketika berkendara mobil sambil mendengar radio. Terutama kalau lagi jalan di daerah kota nih biasanya gelombang radionya masih dapat yang bagus dan berkualitas, jadi sayang banget kalau saya enggak sama sekali dengar radio.

Nah karena saya tinggal di Depok dan mayoritas saya lebih sering berkendara dan berpergian di dalam kota (kalau pergi ke luar kota bisa dihitung jari) menggunakan mobil, saya kerap mendengarkan radio lokal yang ada di Jakarta dan sekitarnya yang frekuensi atau gelombangnya masih bisa dijangkau.

Lalu biasanya saya dengar radio apa sih kalau di jalan?

Jujur deh, saya enggak begitu hafal banget dengan channel radio-radio yang ada di Jakarta dan sekitarnya ini. Tapi setidaknya saya biasanya lebih cenderung mendengar radio yang diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Radio dengan konten dakwah atau ceramah
  2. Radio dengan konten berita atau informasi lalu lintas
  3. Radio yang isinya sharing dengan para pakar / narasumber
  4. Radio yang memutar lagu-lagu

Itulah diantaranya konten radio yang saya sering dengarkan di mobil. Karena saya gak hafal channel berita tadi maka saya sih kadang suka asal-asalan aja nyari radio yang bagus dan enak untuk didengar pas di jalan.

Untuk radio dakwah saya kadang suka dengar Radio Rodja atau Radio Sillaturahim, radio tersebut kan frekuensinya AM dengn jangkauan siar yang cukup luas, jadi masih enak didengar walau jarak perjalanan kita sudah lumayan jauh dari lokasi siaran radionya. Lumyana lah diri dan hati ini kan juga perlu siraman rohani biar adem, hehe.

Kalau ngomongin radio berita dan informasi saya suka dengerin radio Elshinta nih sob. Radionya cukup edukatif, informatif dan atraktif dengan beraneka ragam berita dan informasi lalu lintas yang juga tak lupa mengajak para pendengarnya untuk berbagi info terkini yang diantaranya adalah info lalu lintas.

Wayang-Golek-dan-Antikorupsi-Talkshow-Festival-Antikorupsi-elshinta-radio-bandung
Radio Elshinta. Sumber: http://prung.org/

Btw, saya dengar radio ini sudah cukup lama loh, kalau enggak salah waktu zaman SMA udah mulai dengar nih hehe. Pokoknya radio ini paling wajib di dengar lah kalau lagi di jalan bahkan saya sampai apa nomor frekuensi radio ini hehe.

Ada juga beberapa radio lain seperti Smart FM, radio Sonora, Radio Dakta, Ras FM dan radio lainnya yang memperdengarkan atau menyiarkan konten program yang cukup bermanfaat yang enggak bisa saya sebut satu persatu.

Lalu radio musik atau lagu-lagu kok saya taruh di part paling akhir? Loh bukannya saya ini pecinta dan penikmat musik nih?

Jadi begini, bukannya saya enggak mendukung dan menikmati radio musik tetapi saya berpikiran kalau dengar lagu / musik itu kan sudah biasa dan kita pun bisa menikmati musik pada media lain selain radio dan juga bisa menikmati kapan saja dan dimana saja, oleh karenanya saya lebih cenderung memilih mendengar siaran berita / informasi ketimbang ketimbang siaran radio yang lebih cenderung memutar lagu. Tak lebih ini supaya ketika saya berkendara atau di jalan saya bisa mendapatkan informasi, ilmu dan pengetahuan yang bermanfaat.

Kalau khusus untuk radio lagu, saya kadang suka banget tuh dengerin radio Camajaya FM yang banyak memutar lagu-lagu nostalgia jaman dulu, tapi karena saya enggak hafal frekuensinya jadi saya terpaksa jarang dengar, hehe.

Well, itu saja sharing pengalaman saya mendengar radio ketika berkendara di mobil. Semoga bermanfaat ya 🙂

Nah, kalau kamu sukanya dengar radio apa nih kalau di jalan?

Featured imagehobbyaudio.blogspot.com

TAWP

Akhirnya Tugas Akhir

Wah, enggak terasa nih perkuliahan saat ini sudah masuk ke babak Tugas Akhir saja nih. Ya Allah, padahal mah TA nya udah dimulai dari kapan tau, tetapi saya baru sempat menuliskan tentang hal ini sekarang, haha.

Akhirnya setelah hampir dua tahun, saat yang dinanti dan paling ditunggu-tunggu pun tiba, Tugas Akhir tentunya. Ya, sekarang bisa dibilang sudah memasuki di bulan ke dua pengerjaan. Udah masuk bulan kedua nih, bagaimana dengan progres tugas saya?

Sebelum saya bahas lebih dalam tentang progres tugas saya, saya akan jelaskan terlebih dulu tentang Tugas Akhir saya secara umum. Keep Reading

Duka Indonesia: Wafatnya Mantan Imam Besar Masjid Istiqlal

mustafa-yakub-shmb

Innalillahi wa Innailaihi Rooji’un.

Telah berpulang ke Rahmatullah Prof. KH. Ali Mustafa Yaqub mantan Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta pada Kamis, 28 April 2016 kemarin setelah dikabarkan Beliau sempat dirawat di Rumah Sakit Hermina Ciputat, Tangerang Selatan.

Berita duka ini saya dapat atau saya ketahui dari beberapa akun Instagram komunitas / organisasi dakwah islam maupun juga para pemuka agama / Ustadz yang kebetulan saya follow akun IG mereka. Dan berikut ini adalah beberapa postingan di Instagram mengenai kabar / berita duka dari Alm. Pak Ali:

Mhn doa u beliau. Wafat. Shalatkan ghaib nanti pas zuhur berjamaah ya. Di semua masjid… Mksh ya…

A photo posted by Yusuf Mansur (@yusufmansurnew) on

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ اْلأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ النَّارِ . . . “Ya Allah! Ampunilah dia berilah rahmat kepadanya, selamatkanlah dia (dari beberapa hal yang tidak disukai), maafkanlah dia dan tempatkanlah di tempat yang mulia (Surga), luaskan kuburannya, mandikan dia dengan air salju dan air es. Bersihkan dia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran, berilah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga (atau istri di Surga) yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia), istri (atau suami) yang lebih baik daripada istrinya (atau suaminya), dan masukkan dia ke Surga, jagalah dia dari siksa kubur dan Neraka.” (HR. Muslim no. 963) .. .. .. *kembali kami posting

A photo posted by teladan rasul (@teladan.rasul) on

Diantara musibah terbesar di negeri ini adalah kehilangan ulama besar yang senantiasa istiqomah menegakkan kebenaran.

A photo posted by Indonesia TanpaJIL (@tanpajil) on

Mendengar kabar duka tersebut, tetiba saya kembali teringat dan mencoba flashback ke satu tahun yang lalu dimana saya sempat mendegarkan ceramah Beliau sewaktu Shalat Tarawih di Masjid Istiqlal. Tulisan yang berjudul Tarawih di Masjid Istiqlal menjadi saksi bisu pengalaman saya dalam melewati malam Ramadhan 2015 di pekan pertama dengan mendengarkan dan menyaksikan ceramah Beliau yang sarat akan makna, ilmu serta hal positif lainnya.

IMG_5979
Dengan hikmat, para jama’ah Masjid mendengarkan ceramah Beliau, Prof. KH. Ali Mustafa Yaqub. Masjid Istiqlal, 2015.

Kini guru bangsa kita telah berpulang kepangkuan Allah SWT untuk selama-lamanya. Kepada para sahabatku seiman khusunya para pembaca dan pengunjung blog shambustory.com sekalian, marilah kita sama-sama bermunajah dan mengirimkan do’a untuk Beliau. Semoga amal ibadah Beliau diterima di sisi Allah SWT dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan, kekuatan dan kesabaran. Semoga Allah SWT memberikan tempat yang mulia disisi-Nya, Insya Allah Amin.

Terimakasih Alm. Prof. KH. Ali Mustafa Yaqub atas ilmu yang telah engkau berikan dengan tulus dan ikhlas kepada kami masyarakat Indonesia.

Al – Fatihah untuk Prof. KH. Ali Mustafa Yaqub.

Terimakasih, Wassalamu’alaikum.

Menjala Harapan; Reklamasi Teluk Jakarta

Proyek reklamasi teluk Jakarta kini sedang menjadi isu panas yang kerap menjadi pebincangan oleh segenap warga masyarakat khusunya warga Jakarta dan sekitarnya serta juga di berbagai media cetak, online maupun media elektronik.

Proyek yang merupakan program kerja pemerintah provinsi DKI Jakarta ini menimbulkan dan menyisakan banyak tanya yang diantaranya adalah tentang dampak baik dan dampak buruk dari begulir atau berjalannya proyek ini bagi lingkungan sekitar wilayah yang terdampak dan siapa sajakah yang diuntungkan maupun dirugikan dari berlangsungnya proyek pengurukan lautan di utara Jakarta menjadi sebuah daratan.

Melalui film dokumenter karya Toni Irsan yang bertajuk “Menjala Harapan” ini, sedikitnya kita diajak untuk menyelami realita yang terjadi  di tengah masyarakat yang bertempat tinggal berdekatan dengan lokasi terdampak reklamasi yang rata-rata atau sebagian besar berprofesi sebagai nelayan.

Cerita lengkapnya, silahkan tonton video dokumenter yang dipublikasikan di akun YouTube NC Pictures di bawah ini:

Setidaknya video di atas dapat memberikan gambaran kepada kita siapa sebenarnya yang salah dan siapa yang benar serta siapa yang sepatutnya diberikan perlindungan, keamanan dan kenyamanan di lokasi terdampak proyek reklamasi.

Semoga dengan ini kita dapat berpikir lebih jernih terhadap pihak mana yang semestinya kita bela dan kita dukung dalam proyek reklamasi yang menurut pandangan saya pribadi lebih banyak mudharatnya ketimbang manfaatnya.

Bantu share video atau tulisan ini jika memang kamu tidak ingin ekosistem dan lingkungan di sekitar Teluk Jakarta rusak atau hilang begitu saja akibat ulah keserakahan manusia, kepentingan penguasa serta kapitalisme yang kian hari kian merajalela dan kian tak terbendung lagi.

Semoga bermanfaat, terimakasih 🙂

Memanusiakan Manusia

12718335_943703445666437_7837901152473691433_n
Repost from KontraS

 

Tetaplah menjadi dirimu sendiri dengan segala keyakinan atau dengan penuh keyakinan yang kau punya untuk menciptakan kehidupan dunia yang lebih baik.

Memanusiakan manusia adalah salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk dapat menciptakan kehidupan dunia yang lebih baik. Terlebih rasa cinta, saling menyayangi dan saling mengasihi antara sesama manusia pun akan terjalin dengan sendirinya.

Kalau bukan kita siapa lagi yang akan saling mengerti dan memahami antar sesama manusia?

Sedangkan kita manusia, diberikan kelebihan oleh Allah SWT berupa akal dan pikiran yang sejati atau seharunya dapat menjadi jalan bagi diri kita untuk lebih memupuk dan menciptakan rasa cinta dan damai antar sesama.

Muhammad Rizqi Hidayatullah

Salman di Desa Pakuwon, Sukabumi

Sebuah cerita pendek bersambung fiksi. Tulisan / teks dan foto oleh Muhammad Rizqi Hidayatullah “shambu.”

Selamat membaca, terimakasih 🙂


Di tengah hamparan sawah yang membentang luas, laju motor Salman terhenti. Karena tak kuasa melihat indahnya pemandangan yang jarang ia temui di kota membuatnya memutuskan untuk menginstirahatkan sementara perjalanan dengan sepeda motornya.

Padahal menurut warga sekitar yang barusan ia tanya tentang alamat rumah yang dicarinya, alamat yang dituju jaraknya sudah dekat dari tempat ia bertanya tadi, tapi itulah Salman, orang kota yang jarang sekali bersentuhan dengan desa. Ia abaikan jarak yang sebenarnya sudah dekat dengan tempat tujuan demi menikmati jeda sejenak dalam buaian pemandangan desa dengan bentangan sawahnya dan semilir angin yang berhembus siang itu.

Ia lepaskan segala atribut berkendara yang dikenakan. Lalu ia usapkan wajah dengan tangan kanannya untuk menyeka keringat yang membasahi wajahnya yang merupakan efek dari panasnya cuaca di siang hari itu.

_Sukabumi_Blog
Landscape di desa Pakuwon, Parung Kuda, Sukabumi. Foto oleh Muhammad Rizqi @shambuimaji www.shambuimaji.com.

“Subhanallah, sempurna! Inilah Sukabumi yang sesungguhnya, Sukabumi yang sesungguhnya ads di desa Pakuwon ini, kapan-kapan mesti ajak Ratna dan kawan-kawan lain kesini nih, pasti mereka akan takjub sama seperti aku sekarang ini.” Begitu Salman berkata-kata pada diri sendiri.

Ratna yang ia sebut merupakan sahabat dekatnya yang belum lama mereka bertemu muka di danau Dora, Bogor.

Tak ingin kehilangan momen dan kesan pertama ketika berada di lokasi dengan keindahan yang begitu menakjubkan di mata Salman, dengan segera ia raih kamera DSLR yang ia bawa di tas ranselnya untuk mengabadikan kenidahan di sekitar desa Pakuwon dibilangan Kabupaten Sukabumi yang merupakan tempat ia berpijak saat ini.

Panas teriknya matahari di pinggiran sawah siang itu tak menyurutkan semangat Salman untuk tidak melewati momen pun waktu berharga yang dimilikinya tersebut. Melalui tangan terampilnya, ia arahkan lensa kameranya untuk membidik satu per satu lanskap yang begitu memanjakan mata.

Wajah sumringah pun terpancar dari wajah Salman. Begitu kesumringahan itu menyiratkan suatu kebahagiaan dari seorang pemuda yang lebih dominan mengkawani kota dengan segala kemewahan dan kegemerlapan yang diberikannya ketimbang mengkawani desa dengan segala macam keindahan yang diberikannya baik secara tersirat maupun secara tersurat yang belum dapat atau belum mampu diberikan oleh kota.

Desa Pakuwon siang itu telah menjadi saksi bisu ketakjuban Salman akan kebesaran dan keagungan Tuhan, Allah SWT yang menciptakan, memberikan dan menitipkan keindahan dunia di bumi Indonesia melalui Sukabumi.

Jpeg

Gerhana Matahari Total di Bulan Maret

Baru saja kemarin kita menyaksikan dan melewati fenomena alam yang langka yaitu Gerhana Matahari Total yang terjadi pada 9 Maret lalu yang bertepatan dengan tanggal merah.

Alhamdulillah fenomena alam yang memang jarang sekali terjadi ini berlangsung di waktu hari libur di Indonesia sehingga jutaan pasang mata dapat berbondong-bondong dengan bebas dan seksama menyaksikan fenomena yang merupakan kebesaran Allah SWT tersebut.

Ya! Saya pertegas sekali lagi bahwa fenomena gerhana matahari total merupakan salah satu wujud dan bentuk dari kebesaran dan keagungan dari Allah SWT.

Dari hanya mengetahui, kemudian kita nikmati lalu timbul atau muncul rasa bahagia dalam diri kita sesaat setelah kita mengalami, merasakan dan menikmati gerhana matahari tersebut, tanpa kuasanya kita manusia yang bukan apa-apa dan siapa-siapa di mata-Nya ini tidak akan bisa menikmati fenomena yang terfenomenal di bumi ini.

Apalah daya, kita manusia hanya bisa merasa ketika fenomena ini terjadi, tidaklah kita manusia bisa menciptakan fenomena alam yang dahsyat seperti ini terkecuali suasana, mungkin kita masih bisa menciptakannya, suasan cair yang saling membaur antar sesama ketika kita menyaksikan peristiwa ini sebab hanya Allah SWT lah yang berdaya untuk menciptakan segala sesuatu yang diluar kemampuan manusia.

Ketika kita tiada daya untuk dapat menciptkan suatu hal yang diluar kemampuan kita seperti ini, apakah pantas kita melewati peristiwa langka ini dengan perayaan atau seremonial duniawi yang sarat akan sesuatu yang ujung-ujungnya mengarah pada euforia yang terlalu berlebihan, bermegah-megahan, pemboorosan uang negara terlepas dari alih-alih promosi pariwisata daerah dan hal-hal yang terkesan penting dan berujung pada ketidakbermanfaatan.

Sudah sepatutnya kita menyikapi segala bentuk kenikmatan dan karunia yang diberikan oleh Allah SWT yang menjelma melalui fenomena gerhana matahari total ini dengan bersyukur atau penuh rasa syukur terlepas dari fenomena alam ini sudah berlalu ketimbang kita terlalu berlebihan dalam merayakan fenomena alam seperti ini.

Sebagaimana kita ketahui Allah SWT lah yang maha berkehndak akan segala sesuatu, gerhana matahari ini pun terjadi atas kehendak Allah SWT semata. Manusia mungkin dengan segala ilmu yang dimilikinya mungkin bisa mengetahui atau menentukan kapan datangnya fenomena seperti ini, tetapi ketika Allah SWT tidak berkehendak maka tidaklah akan terjadi fenomena ini.

Lantas dengan cara apa kita mesti bersukur atau menysukuri segala kenikmatan sesaat melalui gerhana matahari ini?

Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk menunjukkan raya syukur kita terhadap karunia dan nikmat Allah yang satu ini yang tentunya sesuai dengan ajaran agama Islam yaitu dengan melaksanakan Shalat Sunnah Gerhana, perbanyak berTakbir dan Dzikir serta memperbanyak sedekah pada hari gerhana matahari tersebut terjadi.

Seperti dikutip dari akun Instagram Tadabbur Daily tentang gerhana matahari berikut ini:

Alhamdulillah, 9 Maret lalu untuk kali pertamanya saya melaksanakan Shalat Sunnah gerhana. Pengalaman pertama ini tentunya merupakan pengalaman dan momen yang paling berharga dalam hidup saya.

Awalnya saya bimbang antara ingin ikut Shalat berjama’ah di Masjid atau tidak ikut Shalat sama sekali yang kemudian tadinya saya malah akan merencakan memilih lari pagi di hari libur tersebut. Namun dengan berbagai pertimbangan yang matang, akhirnya saya memutuskan untuk ikut Shalat gerhana berjama’ah di Masjid Al-Falah di komplek dekat rumah.

Tadinya juga saya malah mau Shalat sendiri di rumah karena saya berpikir ini adalah Shalat Sunnah. Tetapi karena saya kurang begitu memahami dan mengetahui tata cara Shalat Gerhana yang baik dan benar walaupun saya sempat cari tata cara Shalatnya di Google tapi saya tetap saja belum mudeng dan justru malah makin ragu kalau Shalat sendiri tanpa dibimbing oleh ahlinya, pilihan terbaik adalah dengan mendatangi Masjid.

Satu hal yang tak terduga dan tak disangka adalah Masjid begitu ramainya dipadati oleh para jama’ah. Yaa kurang lebih bisa dibilang hampir mirip-mirip lah dengan ketika Shalat Ied, Subhanallah. Seketika itu kalimat puji-pujian terucap dari seluruh jama’ah yang tentunya amat menanti fenomena gerhana ini.

Tak ingin ketinggalan, walaupun tidak ada niatan khusus untuk memotret atau mengabadikan momen gerhana matahari, tetapi hati dan jiwa saya rasanya terasa gatal ingin ambil bagian dalam mengabadikan momen langka ini.

Walaupun saat itu saya sedang tidak membawa kamera DSLR karena memang tidak ada persiapan yang matang akan hal ini,  dan juga terlebih saya sama sekali tidak menggunakan atribut seperti kacamata yang bisa menjadi alat untuk melihat gerhana matahari secara jelas sehingga saya hanya mengandalkan mata telanjang dalam melihat gerhana ini yang walhasil saya tidak melihat gerhana matahari terjadi secara sempurna.

Lalu dengan berbekal kamera ponsel saya berusaha untuk mengabadikan gambar di waktu gerhana matahari total itu terjadi atau berlangsung. Begitu semesta mendukung jari jemari saya untuk menekan tombol shutter yang terdapat pada smartphone saya sehingga menghasilkan karya foto yang cukup memiliki makna yang mendalam bagi setiap insan sebagai berikut:

Jpeg
Mentari pagi di kala itu

Jpeg

Foto oleh shambuimaji www.shambuimaji.com.

Dibalik segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan ini khusunya pada momen atau fenomena gerhana matahari total ini semoga dapat membawa manfaat, hikmah dan kebaikan bagi kehidupan kita saat ini maupun masa mendatang.

Semoga fenomena alam ini dapat menjadi ruang instrospeksi atau ruang perenungan bagi diri kita agar kita tidak melupakan atau lebih mengingatkan kita lagi terhadap Sang Pencipta, Allah SWT dengan segala keesaan, kebesaran dan kuasa-Nya.

Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca tulisan ini. Jika ada yang kurang berkenan dengan tulisan ini mohon dimaafkan sebab saya hanya berusaha untuk menuangkan pemikiran yang saya miliki mengenai fenomena yang baru saja terjadi ke dalam sebuah tulisan. Dan semoga tulisan ini bermanfaat ya sobat.

Wassalamua’laikum.

Banda Neira: Yang Patah Tumbuh Yang Hilang Berganti

Satu kata untuk lagu ini adalah: “Dalam”. Lirik lagunya begitu dalam sehingga ketika pertama kali saya mendengar lagu ini secara penuh, dengan tanpa berkompromi, sontak hati saya langsung tersentuh akan atau dengan liriknya.

BACA JUGA: Berjalan Lebih Jauh: Banda Neira

Sungguhlah lirik ini bagaikan mengingatkan saya akan sesuatu yang sebetulnya sesuatu ini amat sulit jika diungkap dengan kata-kata yang hanya mampu dirasa. Lebih dari pada itu, begitu lirik lagu ini cukup menenangkan hati ketika meresapi atau menghayati dan memaknai lirik lagu ini secara mendalam.

Lebih dari sekedar angkat ribuan topi, ribuan acungan jempol, ribuan tepuk tangan bahkan standing applause untuk Banda Neira, begitu besar apresiasi saya terhadap karya album baru khusunya lagu Yang Patah Tumbuh Yang Hilang Berganti  ini sehingga kata-kata pun sulit terucap demi mengapresiasi lagu yang cukup memberikan aura positif bagi jiwa ini.

Salut untuk duo band Banda Neira yang telah menghasilkan dan menciptakan karya yang begitu berbeda, bermakna dan berharga bagi penikmatnya.

Semoga karya Banda Neira bisa tetap berhembus seperti angin yang tidak bisa atau pernah kita lihat wujudnya tetapi tetap bisa kita rasakan dan kita nikmati, sebab terdengar kabar bahwa di penghujung Februari band ini akan vakum sementara.

Dan semoga saya bisa segera menikmati karya album kedua Banda Neira ini melalui versi rilisan fisiknya, InsyaAllah, Amin 🙂

Nah, bagaimana tanggapan kamu dengan lagu  dari duo nelangsa Banda Neira ini?

Sukabumi & Palabuhan Ratu

Cover Natgeo

Bismillah.

Assalamu’alaikum.

Tulisan ini telah dipublikasikan di laman web National  Geographic Indonesia sebagai kompetisi cerita “Travel Mate” yang diadakan oleh NatGeo Indonesia, selamat membaca.


Jawa Barat merupakan salah satu provinsi yang memiliki tingkat kepadatan penduduk yang tinggi di pulau Jawa. Maka tak heran bila Jawa Barat banyak memiliki daerah-daerah atau obyek yang kerap dijadikan sebagai destinasi wisata oleh para wisatawan atau traveler.

Mulai dari wisata sejarah, wisata rohani, wisata alam, wisata budaya dan jenis atau genre wisata lainnya semua ada di Jawa Barat.

Salah satu kota yang namanya sudah tidak asing di telinga kita adalah kota Sukabumi yang letaknya berada di Jawa Barat bagian selatan dan berbatasan langsung dengan kota Bogor. Berjarak sekitar 110 km dari Jakarta dengan estimasi waktu tempuh 2 hingga 3 jam perjalanan dalam keadaan lancar atau tidak macet, tak jarang kota Sukabumi ini juga kerap disambangi warga Ibu Kota untuk sekedar melepas penatnya kehidupan Ibu Kota sembari menikmati obyek-obyek wisata yang disuguhkan oleh kota yang memiliki semboyan Reugreug Pageuh Repeh Rapih ini.

Tak perlu khawatir jika kita ingin berwisata ke sana, selain jaraknya yang masih terjangkau dari Ibu Kota (Jakarta & sekitarnya) yang kebetulan saya berdomisili di kota penyangga Jakarta, akses menuju kota Sukabumi pun sangat mudah dijangkau. Jika tidak memiliki kendaraan pribadi, banyak transportasi massal atau kendaraan umum disediakan untuk menunjang kegiatan wisata atau traveling kita.

Mengapa harus Sukabumi, tidak kota lain sebagai kota destinasi wisata bagi para traveler? Selain jaraknya yang tidak begitu jauh dari ibu kota sehingga para traveler ibu kota tidak perlu khawatir soal jarak tempuh, kota Sukabumi ini juga tidak kalah menarik dengan kota lain yang ada di Indonesia khususnya yang ada di Jawa Barat.

Sukabumi memiliki beragam obyek atau destinasi wisata yang cukup menarik hati dan hasrat para traveler. Bagi yang suka wisata alam, di Sukabumi terdapat gunung yang kerap didaki diantaranya adalah gunung Salak dan gunung Gede Pangrango, ada juga sungai yang kerap dijadikan sebagai wahana arung jeram seperti sungai Citarik.

Yang tak kalah dari obyek wisata gunung dan wisata rafting yang saya jelaskan di atas yang terdapat pada kota ini adalah wisata pantainya. Sukabumi juga sangat dikenal dengan jajaran obyek wisata pantainya yang membentang luas di pantai selatan Sukabumi.

Oleh karenanya jika berkunjung ke Sukabumi, tidak afdol rasanya jika kita tidak berkunjung ke pantainya. Salah satu pantai yang paling di kenal dan terkenal seantero kota Sukabumi adalah pantai Palabuhan Ratu.

Pantai Palabuhan Ratu ini begitu terkenal sebab pantai ini begitu kental sekali dengan mitos-mitos, cerita maupun legenda tentang Ratu Pantai Selatan yang dimana kisah-kisah yang berkaitan tentang hal ini pun kerap di umbar atau diberitakan di media mainstream sehingga cukup menambah popularitas dari pantai ini.

Untuk dapat menuju pantai Palabuhan Ratu ini dibutuhkan waktu tempuh sekitar 2 sampai dengan 3 jam perjalanan dari kota Sukabumi. Jika dari arah Jakarta atau Bogor, akses menuju Palabuhan Ratu dapat dilalui dengan dua pilihan akses jalan yang berbeda. Yang pertama kita dapat melewati jalur tengah kota Sukabumi yang terkadang kerap terjadi kemacetan panjang jika hari libur dan yang kedua adalah kita dapat melalui jalur alternatif via Cikidang jika ingin menghindari macet di Sukabumi kota.

Lalu sebaiknya pilih jalur mana untuk menuju Palabuhan Ratu? Jika waktu masih pagi atau siang dan ingin menghindari macet di Sukabumi kota, kita bisa melewati jalur Cikidang, namun jikalau hari sudah malam saya tidak merekomendasikan untuk melewati jalur Cikidang sebab jalan sangat sepi dan jauh kehidupan warga. Maka jika hari sudah malam baiknya melalui jalur kota saja.

Selama dalam perjalanan menuju pantai Palabuhan Ratu baik melalui jalur kota maupun jalur Cikidang mata kita disuguhi dan dimanjakan oleh hamparan pemandangan alam yang membentang luas sepanjang jalan seperti pegungungan, perbukitan dan perkebunan. Jika kita melewati Cikidang, seluas mata memandang kita akan disuguhkan dengan hamparan perkebunan kelapa sawit dan pegunungan.

Indahnya ciptaan Yang Maha Kuasa di tanah Sukabumi membuat perjalanan kita yang cukup jauh secara jarak dan waktu menjadi tidak terasa dan begitu berarti. Betapa indahnya bentang alam di Sukabumi yang patut kita syukuri dan patut kita jaga kelestariannya sehingga kebahagaiaan tidak berhenti hanya pada diri kita saja.

Landscape yang begitu mempesona selama dalam perjalanan akhirnya menyampaikan dan mempertemukan kita pada tujuan kita yaitu pantai Palabuhan Ratu.

Jejeran pantai yang begitu indah nan ekstotis menyambut kita dengan deburan ombak yang datang silih berganti dan juga semilir angin yang berhembus. Sampai di sana tak serta merta kita akan langsung turun ke pantai, karena di sana ada banyak pantai, biasanya kita melakukan survey terlebih dahulu terhadap pantai yang akan kita kunjungi.

Sebab masih banyak pantai di Palabuhan Ratu yang kurang terjaga kondisi kerapihan, ketertiban dan kebersihannya, sehingga survey lokasi yang kadang cukup memakan waktu ini cukup ideal untuk kita lakukan sebelum kita benar-benar akan menginjakan kaki di pantai tersebut.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dan penuh dengan lika-liku akhirnya jiwa dan raga kita pun dapat menyatu dengan pantai. Iya, inilah dia Palabuhan Ratu, pantai di selatan pulau Jawa.

Kita yang sama sekali belum pernah menginjakan kaki ke sini pasti akan berandai-andai dan berekspektasi besar atau tinggi terhadap pantai ini, mungkin pantai disini sama seperti di pulau Dewata sana, banyak bule sedang berjemur dan hal-hal menarik atau unik lainnya. Namun mirisnya di pantai yang memiliki bentang alam yang cukup eksotis dan menarik ini, kondisinya berbanding terbalik daripada pantai di pulau Dewata sana. Pantai disini kurang begitu ramai dipadati oleh wisatawan baik wisatawan domestik maupun mancanegara.

Dari kacamata saya, saya kurang begitu melihat antusiasme para traveler untuk mengunjungi pantai ini. Apakah faktor mitos tentang Ratu Pantai Selatan dan juga masalah kebersihan yang sebetulnya hanyalah masalah klasik yang belum kunjung menemui akhirnya ini menjadi beberapa faktor penyebab para traveler enggan untuk berkunjung ke pantai ini?

Padahal jika ditelaah kembali, pantai di pulau Bali pun tak lepas dari jeratan masalah sampah, namun entah kenapa pantai disana masih tetap ramai dipadati wisatawan.

Siapa yang mestinya bertanggung jawab akan masalah ramai dan tidak ramainya pengunjung di pantai selatan pulau Jawa ini (Palabuhan Ratu)?

Saya sebagai seorang traveler yang sempat berkunjung ke sana akhir tahun 2015 lalu mencoba menganalisa dan memberikan sedikit hipotesa terhadap masalah ini.

Sepengetahuan saya kalau di Bali sana banyak sekali dilaksanakannya event yang berkaitan dnegan kebudayaan yang tentunya mengangkat kebudayaan dan kearifan lokal Bali yang cukup memberikan dan membawa dampak baik bagi peningkatan traffic kunjungan wisatawan di pantai di Bali.

Sejatinya pantai Palabuhan Ratu harus mulai berbenah diri yang tentunya mesti mendapat dukungan dan dorongan yang kuat dari seluruh elemen masyarakat untuk dapat menjadikan pantai Palabuhan Ratu sebagai list destinasi wisata yang wajib dikunjungi bagi para traveler yaitu dengan mengangkat unsur kebudayaan dan kearifan lokal pesisir pantai di selatan kota Sukabumi dalam kegiatan promosi dan kampanye obyek wisata pantainya.

Seperti dengan mengangkat unsur kebudayaan yang hanya terdapat pada daerah pesisir saja yang tentunya yang memiliki nilai positif sehingga suatu saat nanti masyarakat akan mudah mengenali dan mengetahui tentang unsur kearifan lokal yang terdapat di Palabuhan Ratu terlebih setiap daerah memang memiliki budaya dan tradisi yang berbeda-beda.

Oleh karenanya diperlukan ketegasan dan keseriusan dari pihak yang terkait agar publik dapat lebih tahu dan lebih mengenal budaya dan kearifan lokal yang ada di Palabuhan Ratu dan sekitarnya sehingga kiranya dengan sendirinya traffic wisatawan yang berkunjung akan mengalami peningkatan.

Terimakasih sudah berkunjung membaca 🙂